Yuk, Jadi Relawan Mukena Bersih! (2)

SIAPA saja, kata ibu dua anak ini, bisa menjadi relawan GMB. Syaratnya? “Punya komitmen untuk memelihara mukena di mesjid/musala di lingkungan sekitarnya. Entah itu di kampus, sekolah, bahkan di pusat perbelanjaan. Bila bersedia memberi komitmen, calon relawan akan diajak melakukan akad untuk diamanahi satu paket GMB.”

Paket itu berisi empat mukena berikut kantong laundry dan dua poster GMB. ”Empat mukena untuk dipelihara dan ditukar cuci secara berkala oleh relawan. Minimal dicuci seminggu sekali. Jadi, ini bukan program bagi-bagi mukena gratis. Mukena itu diamanahkan untuk dipelihara, paling tidak selama satu tahun. Apabila dalam tempo setahun tak mampu lagi melanjutkan amanah itu, paket mukena harus dikembalikan ke pengurus GMB,” tegas Gita.

Kenapa untuk menjadi relawan pemelihara mesti ada akad? “Awalnya, hanya pakai pendamping relawan, lalu ada kertas tanda terima amanah. Tetapi cara seperti itu terus kami evaluasi dan akhirnya dirasa tidak efektif sebagai alat untuk memantau apa betul amanah itu dijalankan sesuai misi dan visi GMB. Akhirnya pakai akad. Setelah ada akad, para relawan bukan lagi bekerja untuk GMB, melainkan semata-mata untuk ibadah.”

Energi Positif
Salah satu relawan pemelihara mukena, Catherina Agusdhina R L (33), bergabung dengan GMB sejak September tahun silam. Ibu tiga anak yang berkerja di sebuah bank swasta ini tergerak menjadi relawan setelah berkali-kali punya pengalaman tak mengenakkan shalat dengan mukena kotor. “Saya belum berjilbab, jadi mukenanya nempel di kulit. Aroma tak sedap mukena mengganggu kekhusukan shalat,” terang Dhina.

Suatu kali, Dhina membaca pamflet tentang GMB di sebuah mushala di toko buku. “Saya tertarik sekali dengan slogan GMB, mukena bersih hati pun bersih. Kebetulan saya tengah cuti di luar tanggungan kantor selama enam bulan. Waktu itu saya tengah menjalani terapi dokter karena menderita penyakit hepatitis C kronis. Jadi selain berobat, saya ingin mengisi cuti dengan aktivitas yang berarti.”

Setelah mendapat paket mukena dari GMB, Dhina menaruhnya di mushala tengah kampung di kawasan Kemang, Jakarta. Di musala yang letaknya tak jauh dari rumahnya itu, hanya tersedia satu mukena bawahannya saja. “Saya pernah numpang salat di situ karena kemalaman di jalanan. Sayangnya hanya ada mukena bawah, tak ada atasannya. Saya terpaksa pinjam mukena atasan dari istri penjaga mushala. Itu alasan saya meletakkan paket GMB di sana.”

Sebelum meletakkan paket mukena dari GMB, Dhina minta izin dan menerangkan niatnya pada pengurus musala yang kebetulan masih kerabat suaminya. “Mereka langsung menerima dan justru merasa terbantu karena selama ini belum ada yang wakaf mukena.” Di sisi lain, tutur Dhina, “Ada juga kerabat yang bilang saya kurang kerjaan, mau-maunya nyuci mukena segala. Saya ikhlas, kok, jadi enggak ada beratnya. Aturan mencucinya minimal memang seminggu. Tapi kalau sudah kotor, tiga hari pun saya cuci. Biasanya saya suruhan pembantu mengambil dan mencucinya. Anak sulung saya, Aura, biasanya saya tugasi untuk melihat, mukenanya sudah kotor apa belum. Musala itu jarang didatangi jamaan perempuan. Kebanyakan laki-laki. Tapi nyatanya pasti kotor. Berarti ada yang pakai, kan?”

Setahun menjalani tugas sebagai relawan, Dhina mengaku merasakan energi positif. “Bagi saya, GMB memberi terapi untuk menjaga hati tetap bersih (dengan menjaga amanah). Alhamdulillah, saya merasa jauh lebih sehat dan hati saya pun lebih tenang serta ikhlas,” ujar Dhina yang tertantang untuk ambil paket lagi. “Rencananya mau ditaruh di musala di gedung kantor saya. Saya lihat mukena di sana juga kurang terpelihara. Mungkin marbotnya berpikir, banyak karyawati yang bawa mukena sendiri sehingga mukena di musala tak terpelihara.” (Bersambung…)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *