Posts

Jadilah orang yang berilmu

Rasulullah Saw bersabda ;

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ (رواه بيهقى)

Qoolan Nabiyu Shalallaahu ‘alaihi wasallam. Kun ‘aliman, au muta’alliman, au mustami’an, au muhibban. Walam takun khoomisan, fatahlik.

“Nabi SAW bersabda ;
1. Jadilah engkau orang berilmu, atau
2. Orang yang menuntut ilmu, atau
3. Orang yang mau mendengarkan ilmu, atau
4. Orang yang menyukai ilmu. dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (HR. Baihaqi).

Rasul SAW memerintahkan umatnya menjadi ‘Alim (orang berilmu, guru, pengajar, ustad, kyai). Jika belum sanggup, jadilah Muta’allimaan (orang yang menuntut ilmu, murid, pelajar, santri) atau menjadi pendengar yang baik (Mustami’an), paling tidak menjadi Muhibban pecinta ilmu, simpatisan pengajian, donatur yayasan, lembaga dakwah dan pendidikan dengan harta, tenaga, atau pikiran, atau mendukung majelis-majelis ilmu.

Rasul SAW menegaskan, jangan jadi orang yang kelima (Khoomisan), yaitu tidak jadi guru, murid, pendengar, juga tidak menjadi pecinta ilmu. Celakalah golongan kelima ini. “Fatahlik!” tegas beliau SAW.

Semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan, hidayah, dan petunjukNya pada kita semua. Aamiin

Perintah Menyembelih ujian Nabi Ibrahim Alaihissalam

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ، اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلَاؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لِيُصِيبَهُ الْبَلَاءُ حَتَّى يَمْشِيَ فِي النَّاسِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Manusia dengan cobaan terberat adalah para nabi, lalu yang semisalnya, dan yang semisalnya, masing-masing diuji sesuai kadar imannya. Barang siapa kuat imannya maka berat ujiannya, dan barang siapa lemah imannya maka ringan ujiannya. Semua orang pasti akan diuji sehingga gugur dosa-dosanya.[1]

Pada kesempatan ini, kita akan lihat bagaimana Nabi Ibrahim –imamnya ahli tauhid dan kekasih Allâh- memberi contoh kepada kita cara bersabar menghadapi cobaan.

1. Ketika diperintah untuk membawa istri dan putranya (Isma’il) ke lembah tak bertuan lagi tandus. Beliau laksanakan perintah itu dengan penuh keyakinan dan tawakkal kepada Allâh, sehingga Allâh menunjukkan jalan keluar bagi keduanya, dan menurunkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

2. Selang beberapa tahun, Allâh perintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayangnya (Isma’il), yang dikaruniakan padanya setelah berusia 80 tahun. Beliau pun tunduk terhadap perintah Rabbnya. Dan sungguh ini adalah cobaan yang teramat berat, sebagaimana Allâh firmankan:

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. [As-shâffât /37: 106]

Kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih putranya ini termaktub dalam firman Allâh yang artinya:
Dan Ibrahim berkata,”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku! Anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. [As-shâffât /37: 99-113]

Dari ayat-ayat yag mulia di atas kita dapat mengambil beberapa pelajaran berikut:

Pelajaran Pertama:
Doa memohon keturunan yang baik menjadi perhatian khusus para nabi dan orang shalih
Dalam banyak ayat Allâh menerangkan kepada kita bahwa para nabi dan orang-orang shaleh terdahulu tekun memanjatkan doa, memohon keturunan yang baik. Perhatikanlah para nabi berikut:

1. Ketika Nabi Ibarahim meninggalkan kota asalnya, beliau berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla agar dikarunia putra yang shaleh, lalu Allâh Azza wa Jalla kabulkan permohonannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Ya Rabbku! Anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalehMaka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. [As-shafat/37:100-101].

2. Nabi Zakaria yang tekun memanjatkan doa agar dikaruniai keturunan yang baik. Allâh berfirman:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakariya berdoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku! Berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” [Âli ‘Imrân/3:38]

3. Para hamba Allah yang shaleh, mereka juga memanjatkan doa:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata, “Wahai Rabb kami! Anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [Al-Furqân /25: 74]

Selain memohon dikarunia keturunan yang baik, para nabi dan orang-orang shaleh juga memohon agar Allâh menjaga dan menjadikan ketururan mereka sebagai para hamba yang berserah diri kepada-Nya. Mereka melakukan ini dengan beberapa alasan:

1. Karena jika sang anak meninggal di usia belia, kelak pada hari kiamat akan menjadi penolong bagi kedua orang tuanya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ الْجَنَّةَ قَالَ يُقَالُ لَهُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ فَيَقُولُونَ حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا فَيُقَالُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ

Tidaklah dua orang muslim (suami dan istri) yang meninggal tiga orang anaknya sebelum baligh, melainkan Allâh akan memasukkan keduanya kedalam surga disebabkan kasih sayang Allâh kepada anak-anaknya, ketika mereka diseur, “Masuklah kalian kedalam surga!”, Mereka menjawab, “Orang tua kami terlebih dahulu”, Maka diseur, “Masuklah kalian beserta orang tua kalian kedalam surga.[2]

2. Karena anak yang shaleh senantiasa mendo’akan serta membuat hati orang tua menjadi sejuk dan tentram.

3. Karena kebaikan anak yang shaleh terus mengalir bagi orang tuanya, meskipun kedua orang tuanya sudah meninggal. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah (yang terus mengalir), ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakannya.[3]

Pelajaran Kedua:
Allâh selalu memberi jalan keluar dari setiap cobaan
Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam meninggalkan kota asal dan kaumnya dikarenakan mereka menolak dakwahnya, beliau memohon kepada Allâh agar dikaruniai keturunan yang shaleh. Permohonan beliau q ini dikabulkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan putra yang sangat bijak yang diberi nama Ismail. Putra pertama beliau, sebelum kelahiran Ishaq. Ini kesepakatan kaum Muslimin juga ahlul kitab.

Belum lama sejak kelahiran putera kesayangannya, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar membawa anak beserta ibunya ke lembah gersang yang tak berpenghuni dan meninggalkan mereka disana tanpa bekal makan dan minum yang cukup. Dengan sebab tawakkal keduanya, Allâh Azza wa Jalla memberikan jalan keluar dan menganugerahkan rezeki.

Dalam firman Allâh, yang artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, (As-Shâffât/37:102), artinya: ia dalam masa tumbuh kembang, di mana ia bisa pergi dan berjalan bersama ayahnya. Nabi Ibrahim kerap mengunjungi anak dan istrinya yang berada di lembah tak berpenghuni, dekat dengan calon Ka’bah untuk menengok keduanya. Diriwayatkan bahwa beliau mengendarai buraq.[4]

Firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, “Ibrahim berkata, ‘Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (As-Shâffât/37:102)

Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim Alaihissallam memberitahukan mimpi tersebut kepada putranya adalah agar ujian tersebut terasa lebih ringan (saat dijalani-red),  juga untuk menjajaki seberapa dalam kesabaran dan kepatuhan sang anak kepada Allâh serta orang tuanya.

Firman Allâh Azza wa Jalla berikutnya menyebutkan jawaban anak yang shaleh tersebut, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamuInsya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. [As-Shâffat/37:102]

Artinya aku akan bersabar dan mengharap pahala dari-Nya. Dan Nabi Isma’il benar-benar memenuhi janjinya.

Kejadian selanjutnya, diabadikan dalam firman Allâh Azza wa Jalla : Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), [As-Shâffat/37:103]

Artinya, keduanya berserah dan patuh, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allâh dan Nabi Ismail menaati Allâh dan ayahnya. Nabi Ibrahim membaringkan anaknya dengan ditengkurapkan dan akan disembelih di tengkuknya, agar tidak melihat wajahnya, agar lebih ringan bebannya.

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Ketika Nabi Ibrahim diperintah menyembelih Ismail, syaitan datang menghalangi jalan, namun beliau berhasil mendahuluinya. Lalu Malaikat Jibril membawanya ke jumrah ‘Aqabah, syaitan kembali menghalangi sehingga beliau melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil sampai pergi. Lalu syaitan kembali menghalangi beliau di jumrah Wustha dan Nabi Ibrahim melemparinya lagi dengan tujuh biji batu (sampai ia pergi). Setelah itu Nabi Ibrahim menengkurapkan Ismail yang mengenakan pakaian serba putih, Dia berkata, “Ayahku, tidak ada kain lain yang nanti bisa engkau jadikan kafanku selain yang aku kenakan ini, maka lepaslah baju ini dan jadikan sebagai kafanku.” Saat Nabi Ibrahim Alaihissallam hendak melepaskan baju Ismail, terdengar suara dari belakangnya, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (As-shaffât/37:104-105), Nabi Ibrahim menoleh dan ternyata telah ada seekor domba putih bertanduk yang bermata hitam lebar.[5]

Oleh karena itu, Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Syaitanlah yang kalian lempar, agama Nabi Ibrahim yang kalian ikuti.”[6]

Firman-Nya: Dan Kami gantikan untuknya dengan sembelihan yang agung [Ash-Shaffât/37:107]

Yaitu, kami ganti dengan kambing putih yang bertanduk dan bagus matanya.

Perhatikanlah! Ujian yang berat, diakhiri dengan jalan keluar dari Rabb semesta alam.

Pelajaran Ketiga:
Berbakti kepada ayah merupakan akhlaq para nabi
Dalam masalah berbakti kepada orang tua, Nabi Ismail Alaihissalam memberikan contoh terbaik.

1. Ketika ayahnya berkata kepadanya, ‘Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” [As-Shâffât/37:102].

Sebagai anak yang berbakti, Nabi Ismail Alaihissallam menjawab, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamuInsya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. [As-Shâffat/37:102]

2. Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam datang menjenguk Nabi Ismail, namun beliau Alaihissallam tidak bertemu dengannya, lalu berpesan kepada istrinya, “Sampaikan salamku untuknya dan katakan kepadanya agar mengganti kayu palang pintunya!” maka saat Nabi Ismail Alaihissallam menanyakan prihal lelaki itu dan pesannya. Istrinya menjawab, “Dia menitipkan salam dan menyuruhmu mengganti kayu palang pintumu.” Ismail berkata lagi, “Itu ayahku, dan ia menyuruhku untuk menceraikanmu. Sekarang, pulanglah ke keluargamu!”

Nabi Ismail menceraikan istrinya. Ini adalah bentuk baktinya kepada sang ayah.

3. Ketika Nabi Ibrahim datang menjenguknya lagi dan tidak menemukannya juga. Sepulangnya, Nabi Ismail menanyakan lagi pesannya dan melaksanakan pesan itu sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Pesan itu berisi agar tidak menceraikan istrinya itu.

4. Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam mendatanginya sementara Nabi Ismail sedang meraut anak-anak panah di bawah naungan pohon besar dekat dengan sumur Zamzam. Ketika melihat ayahnya ia berdiri menyambutnya, bersikap selayaknya seorang anak kepada bapaknya, dan sebaliknya. Kemudian Ibrahim berkata, “Wahai Ismail! Sesungguhnya Allâh memerintahkanku untuk melakukan sesuatu.” Nabi Ismail Alaihissallam berkata, “Laksanakanlah apa yang Rabbmu perintahkan!” Nabi Ibrahim berkata, “Engkau akan membantuku?” Kata Nabi Ismail, “Ya, aku akan membantumu.” Nabi Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allâh memerintahkan kepadaku untuk membangun Rumah-Nya di sini.”

Lalu Nabi Ismail mulai membawakan batu dan Nabi Ibrahim mulai membangun, sampai bangunan selesai.

Ini juga di antara bentuk bakti Ismail kepada bapaknya.

Jadi, bakti kepada orang tua merupakan akhlak para nabi, karena itu termasuk amalan yang paling Allâh cintai. Oleh karena itu, hendaknya setiap Muslim bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dalam masalah kedua orang tuanya karena Allâh Azza wa Jalla telah berwasiat agar berbuat baik kepada keduanya.

Kesimpulan
Nabi Ibrahim Alaihissallam telah menunjukan contoh yang paling baik dalam melaksanakan perintah Allâh Subhanahu wa Ta’ala meskipun perintah tersebut sangat berat yaitu meninggalkan anak semata wayang dan ibunya di daerah tandus dan tanpa penghuni dilanjutkan dengan perintah menyembelih anak semata wayangnya. Meski sangat berat, beliau Alaihissallam tetap tunduk dan melaksanakannya.

Semoga Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita semua kesiapan untuk senantiasa tunduk terhadap segala perintah Allâh Azza wa Jalla , baik yang kita ketahui hikmahnya ataupun yang tidak diketahui.

Link Artikel Asli

Maryam, satu-satunya wanita yang di sebut dalam Al Quran

Di dalam Alquran, biasanya disebutkan nama Nabi serta orang saleh dan kebanyakan adalah berjenis kelamin laki. Tetapi untuk yang satu nama orang ini dari kalangan perempuan.

Allah SWT, tidak menyebutkan nama perempuan lain selain dirinya, bahkan nama perempuan ini disebutkan sebanyak 30 kali kesempatan dalam Al Quran.

Nah satu-satunya wanita yang disebut di dalam Al Quran yaitu Maryam binti Imran ra, dan saking mulianya perempuan ini, Allah SWT memutihkan kehormatannya dalam suatu surah, yaitu Surah Maryam.

Allah SWT berfirman :
“(ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya. Maka Kami tiupkan kedalam rahimnya sebagain dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabb-Nya dan kitab-kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat”. (QS. At-Tahrim: 12).

“Allah SWT tidak menyebutkan nama seorang pun perempuan dalam kitab-Nya selain Maryam binti Imran ra.

Allah menyebutkan namanya dalam 30 kali kesempatan, karena mengandung hikmah sebagaimana yang disebutkan para ulama. Bahkan para raja dan orang-orang terpandang tidak pernah menyebutkan nama istrinya di depan rakyat, dan tidak pula mem-populerkan nama mereka. Tetapi mereka menyebut nama istrinya dengan ungkapan, pasangan, ibu, keluarga kerajaan dan lain seterusnya.

“… Namun ketika mereka bersikat terhadap budak, mereka tidak merahasiakannya dan tidak menyembunyikan namanya. Ketika orang Nasrani mengatakan bahwa Maryam istri Tuhan dan Isa Anak Tuhan, Maka Allah SWT terang-terangan menyebut nama Maryam. Dan tidak Allah sembunyikan dengan budak Allah atah Hamba Allah, yang merupakan sifat asli Maryam. Dan Allah SWT jadikan hal ini sebagai kebiasaan masyarakat Arab dalam memyebutkan budaknya.” (Tafsir Al-Qurthubi).

Az-zarkasi menambahkan, “Sesungguhnya Isa terlahir tanpa bapak. Ini keyakinan yang wajib kita miliki. Ketika keterangan nasabnya ke ibunya disebutkan berulang-ulang, maka akan muncul perasaan dalam hati, berupa keyakinan bahwa beliau tidak memiliki bapak. Dan memutihlah nama baik ibunya sang wanita suci dari perkataan kotor orang Yahudi- Semoga Allah melaknat mereka”. (Al-Burhan fi Ulum Al-Quran)

Inilah alasan kenapa hanya nama maryam yang disebutkan dalam Al Quran. Selain ingin meninggikan derajat wanita, Allah juga menegaskan bahwa Maryam bukanlah istri Tuhan. Melainkan Perempuan Suci yang selalu menjaga kehormatannya.

Orang baik banyak teman, Penyeru kebaikan banyak musuh, benarkah?

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (seorang imam, ahli fiqih dan zuhud) pernah ditanya,

“Apa bedanya Orang Baik (Shalih) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)?”

Beliau menjawab

Orang baik melakukan kebaikan untuk dirinya, sedangkan penyeru kebaikan mengerjakan kebaikan untuk dirinya dan untuk orang lain, dan kemudian melanjutkan Orang baik dicintai manusia, penyeru kebaikan dimusuhi manusia.

Beliau ditanya lagi oleh muridnya,

“Kenapa demikian?”

Beliau menjawab –

Rasulullah sebelum diutus sebagai Rasul, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang yang sangat baik.

Namun ketika Allah SWT mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya sebagai Tukang sihir, Pendusta, Gila, dan lain-lain.

Ibnu Qudamah kemudian menambahkan:
Karena Penyeru Kebaikan akan menyingkirkan batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan.

Itulah sebabnya kenapa Luqman al Hakim menasihati anaknya agar bersabar ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan.

Dalam Al Qur’an surat Luqman ayat 17:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Berkata Ahlul Ilmi:
“Satu penyeru kebaikan lebih dicintai Allah daripada ribuan orang baik (yang tidak menyerukan kebaikan).”

Sesungguhnya melalui penyeru kebaikan itulah, Allah menjaga umat ini. Sedang orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri.

Maka marilah kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi penyeru kebaikan.

Dan semoga Allah memberi kita kesabaran dalam perjuangan berat ini. Aamiin…

Jangan takut kehilangan teman saat kita menyerukan kebaikan di kehidupan sehari-hari ataupun di media lain untuk mengajak kembali kepada aturan-Nya.

Jangan takut kehilangan pelanggan saat kita menegakkan nilai islam dalam dunia bisnis

Semoga Allah SWT senantiasa selalu melindungi kita semua di setiap langkap kita. Aamiin