Posts

Jangan meremehkan berbuat baik

Jangan meremehkan berbuat baik sekecil apa pun walau hanya dengan senyum manis tatkala bertemu, begitu pula walau hanya membantu urusan saudara kita yang ringan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim,

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan penggalan hadits di atas mengatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada Jabir bin Sulaim agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Setiap kebaikan hendaklah dilakukan baik itu ucapan maupun perbuatan. Kebaikan apa pun jangan diremehkan. Kebaikan itu adalah bagian dari berbuat ihsan. Allah mencintai orang-orang muhsin (yang berbuat baik).”

Jika engkau menolong seseorang untuk menaikkan barang-barangnya ke kendaraannya, itu adalah suatu kebaikan. Jika engkau membantu dalam perkara yang ia butuh, maka itu termasuk kebaikan. Bila engkau memberi pena pada saudaramu agar ia bisa terbantu dalam menulis, maka itu adalah suatu kebaikan. Meski pula engkau hanya meminjamkan, maka itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi jangan remehkan kebaikan sedikit pun, sungguh Allah menyukai orang yang berbuat baik.

Ada suatu kaedah yang bisa mengingatkan seseorang untuk terus berbuat baik pada orang lain, yaitu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Siapa yang menolong saudaranya dalam kebutuhannya, maka Allah pun akan menolongnya dalam kebutuhannya” (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580, dari Ibnu ‘Umar).

Cobalah renungkan bagaimana jika sampai Allah menolongmu? Apakah suatu urusan jadi sulit ketika Allah langsung yang menolong? Jawabnya tentu saja tidak. Hadits itu maksudnya, jika engkau menolong saudaramu, maka Allah juga akan menolongmu. Suatu urusan yang sulit akan jadi mudah tanpa ragu lagi. Jadi yakinlah bahwa jika engkau menolong saudaramu, maka Allah pasti akan menolongmu pula dalam urusanmu. Karenanya, perbanyaklah kebaikan dan bantulah terus orang lain.

Jangan remehkan satu kebaikan sedikit pun walau itu sepele. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

“Wahai para wanita muslimah! Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.” (HR. Bukhari no. 2566 dan Muslim no. 1030, dari Abu Hurairah).  Walau itu sesuatu yang sedikit jangan dianggap remeh.

Bentuk kebaikan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Jabir bin Sulaim adalah berbicara dengan saudaramu dalam keadaan wajah yang tersenyum. Seperti itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain. Allah pun menyukai orang yang demikian.

Tidak setiap waktu kita mesti bermurah senyum pada orang lain. Kadang seseorang melakukan sesuatu yang tidak terpuji, maka saat itu tentu saja kita tidak berwajah senyum di hadapannya dalam rangka untuk mengingatkan kesalahannya. Tujuannya, agar orang tersebut lebih baik dan lebih beradab. Ingatlah, li kulli maqom maqool, setiap tempat punya penyikapan yang berbeda.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 294-295).

Mulai saat ini, marilah kita belajar untuk bermurah senyum dan tidak meremehkan kebaikan sedikit pun. Hanya Allah yang memberi taufik.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. – rumaysho.com

Menjaga Kebersihan

Menjaga Kebersihan Menjaga Keimanan. Empat kata ini kelihatan sederhana, menarik karena sudah menjadi kewajiban namun secara moralitas akibatnya menyangkut kehidupan manusia baik secara fisik, mental & spiritual menjadi satu kesatuan secara keseluruhan. Menjaga kebersihan juga dapat menunjukkan tingkat keimanan kita, tingkah laku sehari-hari dan bagaimana kita berinteraksi, berkomunikasi tidak hanya dengan keluarga, sesama manusia & ciptaanNya, dan akhirnya dengan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Wah hubungannya apa ya?

Begini, penulis sewaktu kecil dibesarkan dalam masyarakat yang menganut nilai-nilai untuk menjaga kesehatan sealami mungkin dan kebesihan sejak dini. Sejak usia balita, setiap pagi saya dan termasuk para cucu lainnya berderet dihadapan nenek untuk menjalani ritual minum sesendok kopi hangat jahe dengan alasan kesehatan jasmani. Begitu pula nenek mengajarkan minum jamu atau minuman herbal seperti daun sirih untuk menghilangkan bau badan dan antiseptic alami. Ini berlaku buat cucu laki-laki dan perempuan. Ini hanya sekedar contoh bagaimana kita diajari membersihkan badan fisik kita.

Penulis punya pengalaman waktu menemani putri kesayangan nonton film bareng teman-temannya yang berulang tahun. Waktu makan bersama tidak ada masalah, begitu nonton film di bioskop baru kelihatan teman-temannya sembarangan meletakkan kotak tempat pop corn dan botol plastik sisa minuman, masih ada sisa makanan. Terus terang penulis sempat menegur temannya supaya mengambil dan menempatkan sampah sisa makanan mereka ke tempat sampah. Hanya satu anak yang melakukan, sisanya dua orang anak hanya menatap aneh ke saya dan lanjut keluar ruangan. Batin saya kok anak-anak seumuran SD begini seharusnya sudah diberitahu mengenai kewajiban membuang sampah ditempatnya, makanpun tidak boleh sembarangan & berantakan. Saya jadi berpikir panjang apakah di lingkungan keluarganya orang tuanya tidak mengajarkan hal-hal mendasar mengenai kebersihan, pentingnya moral budaya malu apabila membuang sampah sembarangan. Kalaupun sudah ada pengajaran disekolah, mengapa anak-anak masih cuek dan sembarangan saja buang sampah di tempat umum. Perilaku anak sejak dini sampai dewasa dalam menjaga kebersihan mencerminkan berhasil tidaknya orangtua dalam mengajarkan kebersihan di rumah.

Demikian juga perilaku seseorang menunjukan tingkat derajat kebersihannya, semakin menjaga kebersihan semakin halus budi bahasa karena seseorang tersebut sudah terbiasa menjaga kebersihan pastinya akan menjaga pola berpikirnya. Hati dan pikirannya tidak tenang manakala melihat pandangan didepannya menunjukkan ketidak teraturan, sampah berserakan, atau melihat sesuatu atau perilaku yang tidak pada tempatnya. Seseorang yang terbiasa menjalani pola hidup bersih, memiliki pikiranyang bersih, biasanya tidak hanya tipe orang yang bersimpati terhadap orang lain akan tetapi juga memiliki sifat yang empati, yaitu karakter atau perilaku orang yang dapat menunjukkan atau merasakan perasaan yang sama apabila orang lain mengalaminya peristiwa baik atau buruk.

Menjaga kebersihan tidak harus memiliki barang-barang yang mahal atau mewah, cukup dengan cara & biaya yang sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan perilaku kita. Misalnya pakaian yang kita kenakan sehari-hari dicuci tiap hari, sebaiknya untuk perangkat ibadah kita pun juga harus bersih setidaknya untuk pemakaian di rumah 3-5 hari sudah harus dicuci. Kalau di luar rumah karena sering dipinjam atau dipakai orang sebaiknya setiap hari tergantung frekuensi pemakaian. Sebagai contoh kalau kita bertemu orang lain saja pada acara tertentu seperti pernikahan, sunatan, undangan perayaan perak atau emas perkawinan, reuni dengan teman kuliah, bahkan arisan. Persiapan ritual kita banyak seperti mulai dari mandi, pakai pakaian bersih, kalau perlu pergi ke salon untuk dandan, kadang mengenakan pakaian khusus atau seragam, ini membutuhkan waktu dan biaya ekstra diluar biaya sehari-hari.

Sekarang mari kita melakukan refleksi diri, ini termasuk penulis sendiri sebagai pengingat. Mari kita bandingkan dengan persiapan kita dalam lima kali sehari kebutuhan untuk menghadap kepada Allah, SWT, sang Khalik, yang memiliki kekayaan pada segala yang ada dilangit dan bumi. Yang mengetahui apa saja yang disembunyikan didalam hati setiap manusia ciptaanNya, untuk menyatakan perasaan rindu bertemu denganNya, perasaan lemah dan ketidakberdayaan ketika menghadapNya. Tentu saja kita melakukan ritual mandi, wajib terutama sesudah berhubungan dengan pasangan kita. Bagaimana dengan pakaian kita? Khusus bagi kaum perempuan yang bekerja dikantor dan dirumah, sekali lagi penting untuk diingatkan bukan persoalan harga pakaian tetapi kebersihan yang utama. Bersih, rapi & menarik. Begitu juga dengan mukena yang kita kenakan. Kebayang kan betapa jijiknya bila mau shalat bagian lobang kepala mukena kena dasar bedak coklat tebal atau bahkan lembab, timbul jamur-jamur bintik hitam disekelilingnya. Wih, kita yang mau shalat saja jijik rasanya, apalagi yang mau menilai ibadah kita, malaikatpun pasti menjauh. Lebih lanjut, coba kita perhatikan mukena yang ada di rumah kita dulu, baru kemudian yang ada di kantor, di mall, di masjid, dan tempat umum lainnya.

Bersih & wangi adalah kunci. Apabila perangkat sholat bersih apalagi wangi, hmm kita makin rajin untuk beribadah, bukan? Rajin untuk berdoa, mendoakan orang-orang yang kita sayangi. Penulis punya pengalaman pernah mencuci perangkat sholat mukena & sajadah sewaktu bekerja di kantor dulu. Meskipun bukan mukena sendiri. Hati akan risih, bagaimana doa-doa kita akan dikabulkan kalau soal menghadap saja kita tidak siap dan tidak bersih. Bagaimana mungkin kita bisa berteman dengan seseorang yang mampu berpakaian bermerek & mahal sedangkan peralatan sholatnya tidak diperhatikan kebersihannya. Walaupun kita tidak mengatakan langsung kepada orang tersebut namun batin kita atau orang lain akan memandang penuh keheranan bahkan jijik dengan perasaan geli dan risih. Teman penulis pernah menceritakan neneknya kalau setiap sholat selalu mengenakan baju terbaiknya, selalu berbersih diri dan dandan dan selalu tersenyum dalam memulai membacakan doa-doa shalat. Ikhlas dan rindu akan sang Khalik terpancar dalam rona mata dimukanya. Indah dan mesra sekali.

Perbandingan contoh diatas mengingatkan kita kembali untuk sekali lagi bersih diri, bersih sikap dengan bersih perilaku denga cara membersihkan perangkat sholat kita terutama mukena bagi kaum perempuan. Mukena yang bersih, wangi, tertata dan dilipat rapi, dengan perangkat sholat lain sajadh, tasbih, buku doa, akan membuat kita semakin rajin meningkatkan ketakwaan kita. Mari kita bersihkan mukena kita dan juga ikhlaskanlah dengan sukarela untuk menjaga kebersihan mukena yang dipakai oleh orang lain. Insya allah niat yang baik akan dibalas dengan kebaikan pula. Insya allah suatu hari nanti apabila sudah waktunya kita berpulang dari dunia fana ini kita sudah siap berbersih diri sebelum bertemu denganNya. Amin YRA.

Oleh : Evin Sofia, SH, MM | Pengamat Sosial

Indahnya Kejujuran

Jujur dalam bahasa al-Qur’an paling tidak berarti menyeleraskan antara perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu seorang yang mengaku beriman hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk menyelaraskan antara perkataan dan perbuatannya sehingga terlepas dari ancaman Allah terhadap orang-orang yang tidak berusaha menyesuaikan antara apa yang dikatakan lisannya dengan perbuatan yang dilakukan. Allah Swt. Berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Kejujuran  akan melahirkan kepercayaan yang merupakan pondasi utama untuk mencapai keberhasilan, kebahagian, ketenteraman serta mendatangkan cinta dan rahmat dari Allah. Sedangkan kebohongan sebagai lawan dari kejujuran hanya akan melahirkan kesengrasaan, kegelisahan dan ketidakpercayaan bahkan kebohongan dapat mendorong seseorang berbuat kemungkaran dan menjerumuskannya ke dalam api neraka.

Kebiasaan berkata jujur adalah cermin orang bermartabat, baik di hadapan manusia apalagi di hadapan Allah SWT. Hidup menjadi tenang dan terarah. Cobalah kita perhatikan orang yang selalu berkata jujur, tutur katanya sopan dan pembawaannya tenang karena tidak ada beban yang ditanggung. Akan tetapi, lain dengan orang yang suka dust, seakan kebohongan menjadi senjata yang ampuh dalam menghindar dari satu masalah namun sebenarnya hanya akan menimbulkan masalah lainnya dan kebohongannya juga akan terus menumpuk karena kebohongan yang terucap akan kembali ditutupi dengan kebongan lainnya sehingga Allah mencatatnya sebagai orang yang suka berbohong. Oleh karena itu, berusahalah untuk menjadi orang yang jujur, di mana pun, kapan pun dan siapapun kita. Beranilah untuk  jujur, jujur terhadap tuhan, jujur terhadap diri dan jujur terhadap makhluk.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang yang beriman bertakwalah dan jadilah orang-orang yang jujur”

Kejujuran adalah solusi, jalan keluar, dan keselamatan meskipun syaitan selalu berkata: “Jika kamu jujur maka kamu akan celaka dan direndahkan”. Lihatlah bagaimana sahabat Ka’ab bin Malik yang jujur mengenai alasannya tidak ikut berperang, meskipun awalnya kejujuran yang diucapkannya mengakibatkan dirinya diisolasi oleh Nabi dan para sahabatnya, akan tetapi kesudahannya adalah kemuliaan, bahkan kisah beliau diabadikan di Al-Qur’an dengan sangat indah.

Oleh: H. DR. Ali Nurdin, M.A.

Bersih

Ketika pertama kali mendengar Gerakan Mukena Bersih beberapa tahun lalu, yang langsung terbersit adalah setumpukan mukena yang kering, putih dan wangi yang berada di musholla atau masjid. Harapan akan setumpuk mukena bersih ini menghapus gambaran konvesional akan mukena yang basah, berbau apek, bercak-bercak bekas bedak gincu yang biasa kita temui di musholla. Seperti halnya keinginan kita mendapatkan fasilitas toilet umum yang bersih, bagi muslimah mendapatkan mukena bersih di musholla bak mimpi yang menjadi kenyataan.

Perilaku bersih bukanlah sebuah perilaku yang otomatis bisa didapatkan oleh manusia. Perilaku bersih adalah sebuah proses belajar dan proses mengalami. Diantara banyak perilaku utama yang diajarkan dan dicontohkan kepada anak-anak kita, perilaku bersih adalah salah satunya. Mengapa merupakan proses belajar? Ya, karena perilaku bersih diawali dengan penanaman nilai akan pentingnya kebersihan. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Luar biasa Islam menempatkan kebersihan dalam kehidupan. Belum lagi ditambah nilai-nilai budaya, adat dan keluarga yang juga mengutamakan kebersihan. Nilai (values) yang ditanamkan sejak dini biasanya lebih bisa mempengaruhi sikap kita terhadap kebersihan. Sikap yang positif terhadap kebersihan akan mengantar kita pada perilaku bersih yang sesungguhnya.

Kebersihan sebagian dari iman bukanlah semata tugas guru agama (ustadz dan ustadzah) dan guru sekolah saja untuk menanamkannya pada anak-anak kita. Utamanya itu adalah tugas orangtua dan orang-orang dewasa yang berada di kehidupan anak. Sayangnya, penanaman nilai kebersihan sangat tidak cukup dengan hanya menceramahi anak saja. Anak perlu paham apa yang dimaksud dengan ‘bersih’. Cara yang cukup manjur mengajarkan ‘bersih dan kebersihan’ adalah dengan memberi contoh dan menjelaskannya pada anak. Seribu kali kita katakan bahwa kebersihan sebagian dari iman akan tak berarti apabila tiap hari anggota keluarga disuguhi toilet yang kotor, rumah yang nampak bak gudang, sajadah yang tak pernah dibersihkan dan mukena yang belum tentu seminggu sekali dicuci. Anak belajar dari melihat dan meniru. Kita marah dan mengeluh akan berantakannya kamar anak, namun kita tak sempat mencontohkan bagaimana membuat kamar menjadi rapi adalah hal yang percuma. Intinya adalah belajar tentang ‘bersih’, bersikap positif terhadap kebersihan dan berperilaku bersih merupakan sebuah proses belajar yang panjang dan tak mudah bagi anak dan juga bagi kita orang dewasa. Jangan terlalu berharap anak belajar perilaku kebersihan dari luar rumah, mulailah dari rumah, dari kita, dari seisi rumah.

Mari kita lihat pentingnya perilaku bersih dari sisi psikologi. Saya akan menggunakan penjelasan-penjelasan yang mudah. Dari banyak ahli kita belajar bahwa kebersihan fisik mempengaruhi sikap moral. Seorang ahli melakukan sebuah eksperimen dan menemukan bahwa perasaan jijik (disgust) memiliki pengaruh terhadap ketidakinginan untuk melakukan hal-hal yang dianggap ‘kotor’. Contoh mudahnya begini: kalau kita merasa bahwa korupsi adalah perilaku yang salah, kotor dan menjijikkan maka kemungkinan kita akan melakukan perilaku korupsi akan menjadi rendah. Ada lagi riset lain yang menghasilkan kesimpulan bahwa ada hubungan antara memiliki konsep tentang kebersihan (cleanliness) dan aktifitas membersihkan diri secara fisik dengan keputusan moral yang dibuat. Di psikologi ada istilah yang sangat terkenal yaitu ‘toilet training’ yang merupakan proses anak belajar melakukan buang air kecil dan buang air besar dengan benar. Anak dibawah satu tahun masih perlu kita bantu secara penuh ketika mereka BAB atau BAK. Masa sekarang kita dibantu dengan ‘diapers’ atau popok sekali pakai agar anak merasa nyaman dan kita terbebas dari kerepotan membersihkan kotoran. Menggunakan popok sekali buang secara berkepanjangan akan memperpanjang ketergantungan anak pada kita. Anak menjadi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ketrampilan baru: mengatakan bahwa ia ingin BAB, memilih tempat yang tepat untuk BAB dan membersihkan diri setelah BAB. Tiga hal itulah dasar dari ‘toilet training’ yang menjadi tugas kita mengajarkan dan memberi kesempatan pada anak untuk menguasai ketrampilan BAB dan BAK. Salah satu tujuannya adalah mengajarkan nilai kebersihan pada anak. Seiring dengan pertambahan usia, maka pelajaran tentang kebersihan akan mengikuti kemampuan anak dalam menyerapnya. Mulai sejak dini, lakukan terus menerus, beri contoh yang nyata.

Ada contoh yang lebih ekstrim. Perasaan bahwa diri kita kotor secara mental (misalnya merasa berdosa dan bersalah karena melakukan sesuatu yang dilarang agama atau adat) sampai titik tertentu bisa mendatangkan gangguan perilaku. Perasaan itu terus mendera dan jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat bisa saja mucul dalam betuk perilaku yang berulangkali dilakukan secara berlebiha yang bertujuan untuk ‘membersihkan’ dirinya. Misalnya dia akan terus menerus cuci tangan atau mandi puluhan kali dalam sehari. Dia menjadi terobsesi dengan perilaku ‘membersihkan’ diri.

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa Islam membekali kita dengan nilai, pengetahuan dan perilaku kebersihan yang nyata. Salah satunya adalah berwudlu setiap kali hendak sholat. Kita diwajibkan membersihkan diri minimal 5 kali sehari sebelum melakukan sholat wajib. Contoh yang indah untuk sebuah perilaku kebersihan. Ceritakan pada anak-anak kita apa makna berwudu, nilai apa yang terkandung didalamnya.Janganlah sekedar kita meminta mereka melakukan ritual wudlu tanpa pemahaman yang cukup. Gerakan Mukena Bersih juga merupakan contoh indah bagi kita semua.

Penulis : Retno Dewanti Purba, Psikolog

Mengajarkan Kebaikan

Sebagaimana kebanyakan orang di zaman sekarang, saya kerap menggunakan pesan teks dalam berkomunikasi. Teman saya, si fulan, selalu menulis salam di setiap awal percakapan kami dan tidak pernah disingkat. Kalau tidak menulis, “assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” minimal fulan menulis “assalamu’alaikum”. Pernah saya tanyakan mengapa senantiasa menulis lengkap tidak seperti kebanyakan orang yang menggunakan singkatan “aww” atau “asw” atau “asslmkm” supaya lebih hemat waktu, hemat energi dan hemat kuota huruf. Jawabnya, karena berharap mendapat keberkahan/pahala yang lebih dengan mendoakan lawan “bicara”nya melalui salam yang disampaikan dengan benar. Bila disingkat maka artinya akan berbeda bahkan bisa hilang makna sama sekali. Mendengar jawaban itu, saya berfikir…. Ketika kita menuliskan salam itu tentunya kita ingin mengucapkan salam yang mengandung doa bagi orang yang dituju dan ketika salam itu tidak disampaikan dengan baik maka akan hilang tujuan awalnya. Waktu, energi dan biaya yang dicurahkan untuk mendoakan orang yang dituju oleh kita insya Allah ada nilai pahalanya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amin.

Tidak hanya soal salam, fulan juga kerap menuliskan kata-kata yang mengandung makna yang baik dalam pesan teksnya seperti jazakallahu (semoga Allah memberi balasan yang lebih baik), barakallahu fikum (semoga Allah memberikan keberkahan atas dirimu) dan lainnya. Bagi sebagian orang hal itu terasa berlebihan namun bagi fulan hal itu baik dan tidak merugikan siapa-siapa bahkan membawa kebaikan. Tidak sedikit penerima pesan si fulan akan bertanya tentang artinya dan ketika mengetahui makna dibalik kata tersebut, si penerima pesan kemudian juga membiasakan untuk menggunakan kata-kata baik tersebut. Tidak hanya pahala mendoakan teman, si fulan pun insya Allah mendapat pahala membagi ilmu yang diamalkan. Amin.

Membiasakan melakukan sesuatu yang baik (Jangan meremehkan berbuat baik), meskipun sesuatu yang sangat sederhana, sangatlah dianjurkan. Besar kemungkinan kebiasaan baik yang biasa kita lakukan kemudian ditiru oleh orang lain dan orang itu menjadikan perbuatan baik itu sebagai kebiasaannya. Demikian perbuatan baik itu kemudian ditiru lagi oleh orang-orang disekitar kita dan orang-orang di sekitar orang yang meniru kebiasaan baik itu. Terus menerus, sambung menyambung menularkan kebiasaan baik. Tanpa kita sadari ada balasan pahala yang besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menanti dari amal shalih menularkan kebiasaan baik.

Melakukan kebiasaan-kebiasaan baik, bertutur kata dan berperilaku baik, termasuk didalamnya memberi teladan atas kebiasaan yang baik adalah hal yang amat penting khususnya di masa sekarang ini. Pengaruh budaya non muslim yang sedemikian gencarnya mempengaruhi pola hidup kaum muslim pagi, siang dan malam melalui berbagai tayangan media elektronik, media teks, media audio dan visual. Acara televisi yang pemerannya menjelek-jelekkan pemeran lain dengan ledekan yang bersifat fisik, memanggil dengan panggilan buruk, tampilan laki-laki yang berdandan/bergaya seperti perempuan atau sebaliknya, serta tayangan berita fitnah, mengumbar aib di muka umum dan mempertontonkan aurat; majalah yang isinya foto-foto dengan pakaian yang minim dan mengandung pornografi; serta film dan/atau lagu yang memuat kandungan makna bersifat maksiat dan/atau kemusyrikan. Kesemuanya memberi andil bagi pembentukan perilaku umat muslim dengan teladan yang tidak baik dan merusak moral. Tugas kita sebagai umat muslim, harus saling mengingatkan, saling menasihati dan melindungi keluarga dan sesama muslim dari keterpurukan moral dan iman, dengan memberikan contoh teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari hal yang kecil, yang melibatkan diri sendiri kemudian ditularkan kepada orang-orang terdekat dan disekitar kita, kemudian bersatu, bersama-sama membuat hal yang besar yang bisa berdampak kepada masyarakat yang lebih luas.
Mengenai keutamaan orang yang mengajarkan kebaikan, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi, sampai semut di sarangnya, bahkan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 1838]

Insya Allah dengan niat yang tulus dan lurus karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita diberi kekuatan lahir bathin untuk dapat memberikan teladan yang baik bagi orang-orang di sekitar kita. Aamiin ya Rabb’alamiin.

Penulis: DSG