Mencuci Mukena sebagai perilaku Proposional dan Altruistik

Setiap hari Senin dan Kamis, Mita selalu mendatangi masjid di dekat sekolah anaknya. Bila Senin atau Kamis ia tidak dapat datang ke masjid, maka esoknya ia akan sangat mengusahakan untuk datang. Ia selalu datang dengan membawa 2 pasang mukena yang sudah dicucinya di rumah dan mengambil 2 pasang mukena dari masjid itu. Dua pasang mukena dari masjid tadi akan dicucinya di rumah untuk kemudian ditukar kembali dengan mukena yang beberapa hari lalu dibawanya ke masjid. Begitu seterusnya selama beberapa tahun ini. Kenapa Mia repot-repot mencuci mukena yang bukan miliknya dan hampir tidak pernah dipakainya?

Apa pun jawabannya, apa yang dilakukan Mita merupakan salah satu contoh perilaku prososial. Perilaku prososial adalah tingkah laku yang memiliki konsekuensi sosial positif dan memperbaiki keadaan fisik atau psikologis dari orang lain (Staub 1978; Wispe, 1972). Berlawanan dengan istilah antisosial yang sifatnya agresif, perilaku prososial dapat berupa berbagai bentuk, antara lain tingkah laku menolong, berkorban, berbagi, bekerjasama, donasi, dan penggalangan dana.

Selain melibatkan konsekuensi atau akibat dari suatu tindakan, terdapat juga motif atau alasan di belakang suatu tindakan. Oleh karena itu jika kita membicarakan perilaku prososial, patut pula kita membahas istilah altruisme. Altruisme adalah bentuk khusus dari tingkah laku menolong yang bersifat sukarela, yang motivasi utamanya adalah memperbaiki kesejahteraan orang lain daripada mengharapkan ganjaran positif (Batson, 1987; Walster & Piliavin, 1972). Jadi, altruisme adalah tingkah laku prososial yang tidak mementingkan diri sendiri atau pun dimotivasi oleh egoisme atau minat pribadi.

Alangkah lebih damainya dunia jika manusia lebih prososial dan altruistik. Tapi mungkinkah kita bertingkah laku altruistik? Sementara teori psikologi tradisional menyebutkan bahwa manusia pada dasarnya mementingkan diri sendiri.

Banyak bukti menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkah laku menolong dan empati, yaitu seolah mengalami emosi orang lain. Mita mungkin bersedia menjadi relawan di Gerakan Mukena Bersih karena ia sungguh-sungguh merasakan tidak nyamannya sholat dengan mukena kotor dan bau. Empati yang dirasakan Mita dapat memotivasi tingkah laku menolong yang sungguh-sungguh altruistik, yang tujuan utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan orang lain, bukan sekedar memuaskan kebutuhan diri sendiri, menghindari hukuman, atau merasa senang setelah menolong.

Pengetahuan tentang perilaku prososial dapat digunakan untuk membangun masyarakat yang lebih prososial. Contohnya, anak-anak dapat didorong untuk berperilaku prososial dengan diberi hadiah, diberi contoh-contoh perilaku prososial dan diberi kesempatan sehari-hari untuk bertingkah laku prososial. Serupa dengan itu, kita juga dapat mendorong orang dewasa untuk bertingkah laku secara lebih prososial jika kita memahami motivasi mereka.

Profile penulis:
Penulis : Yasmine Widyawati Gastini, S.Psi.
Yasmine Widyawati Gastini, sarjana Psikologi lulusan Universitas —– adalah praktisi Psikolog

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *