Meraih Kenikmatan dalam Shalat

Seringkali hati kita diliputi mendung jejak-jejak kemaksiatan, sehingga menggelapkan hati dan membekukan keimanan. Hati keras, mata ”kering” tak bisa menangis, badan labil dan tidak ada perenungan terhadap ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala. Ibadah menjadi satu hal yang berat bagi jiwa sebagian orang. Kalau pun ia mengerjakan ibadah, namun mengerjakannya tanpa keikhlasan, kekusyu’an (Meraih Shalat yang Khusyu) dan pengharapan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hal itu tidak lain karena merasuknya kotoran ke dalam hati kita dan hati tidak mungkin kembali ke kondisi yang ideal kecuali dengan membersihkannya dari semua kotoran yang melekat padanya.

Salah satu faktor utama yang dapat mendatangkan thuma’nīnah (ketenteraman) dan sakīnah (ketenangan) hati adalah dengan merasa nyaman tatkala bermunājāt kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta merasa lezat tatkala berdzikir dan memuji-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’d [13]: 28)

Di antara bentuk bermunajat yang paling agung kedudukannya di sisi Allah adalah shalat. Jika seseorang diliputi ketakutan, dihimpit kesedihan, dan dicekik kerisauan, maka segeralah bangkit untuk melakukan shalat, niscaya jiwa akan kembali tenteram dan tenang. Sesungguhnya, shalat itu — atas izin Allah — sangatlah cukup untuk hanya sekadar menghilangkan kesedihan dan kerisauan. Setiap kali dirundung kegelisahan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam selalu meminta kepada Bilal ibn Robbah radhiallahu anhu, “Tenangkanlah kami dengan shalat, wahai Bilal”.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah [2]: 153)

Meraih Kenikmatan dalam Shalat

Ibnu al Qoyyim rahimahullah menyebutkan bahwa khusyu’ adalah ketundukan hati kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara menagungkan-Nya, takut, dan malu kepada-Nya. Lalu hati pasrah kepada-Nya dalam bentuk kepasrahan yang disertai takut dan malu, mengakui nikmat-nikmat-Nya dan kesalahan-kesalahan dirinya. Hal ini tentunya bukanlah sesuatu yang tidak bisa diraih dan diusahakan walau harus dengan keras dan latihan yang melelahkan.

Di antara upaya mewujudkan kenikmatan dan kekhusyu’an dalam shalat adalah:

  • Bersegera memenuhi panggilan adzan.
  • Meyingkirkan hal-hal yang bisa merusak kekhusyu’an
  • Seakan-akan itu adalah shalat yang terakhir kali yang kita lakukan.
  • Membaca dengan tartil dan suara yang baik
  • Tadabbur
  • Berlindung dari setan

Keikhlasan membutuhkan keikhlasan
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Mulk [67]: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala jadikan dalam ayat ini bahwa dalam menentukan tingkatan manusia, barometernya adalah hasan (yang baik). Jadi permasalahannya bukan kuantitas tetapi kualitas. Satu hal yang menjadi faktor terpenting untuk kualitas amal ibadah agar dikatakan sebagai amal yang hasan adalah keikhlasan. Bahkan substansi amal itu sendiri sebenarnya adalah keikhlasan. Ketika keikhlasan tidak ada, maka ada tidaknya sebuah amal menjadi sama aja.

Betapa para Shadiqun sendiri mengalami problem dalam masalah keikhlasan. Tapi tak apalah, langkah pertama adalah melakukan dan merasakan, tetapi perlu sabar, mushobarah dan mujahadah agar dirinya bisa sampai tujuan meskipun setelah sekian lama. Hati-hati jangan termakan oleh amal perbuatanmu, sebagian salaf menyebutkan “Barang siapa yang mengira ikhlas pada keikhlasan dirinya, maka keikhlasannya butuh keikhlasan”.

Bagi generasi umat manusia yang sedang banyak menderita penyakit kejiwaan seperti saat ini, hendaklah rajin mengenal masjid dan menempelkan keningnya di atas lantai tempat sujud dalam rangka meraih ridho dari Robb-nya. Dengan begitu, niscaya ia akan selamat dari berbagai himpitan bencana. Akan tetapi, bila ia tidak segera mengerjakan kedua hal tadi, niscaya air matanya justru akan membakar kelopak matanya dan kesedihan akan mehancurkan urat syarafnya.

Maka, menjadi semakin jelas bahwa, seseorang tidak memiliki kekuatan apapun yang dapat mengantarkannya kepada ketenangan dan ketenteraman hati selain shalat. Salah satu nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang paling besar —jika kita mau berpikir— adalah bahwa shalat wajib lima waktu dalam sehari semalam dapat menebus dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di sisi Robb kita. Bahkan, shalat lima waktu juga dapat menjadi obat paling mujarab untuk mengobati berbagai kekalutan yang kita hadapi dan obat yang sangat manjur untuk berbagai macam penyakit yang kita derita.

Akhirnya kita berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar kita dijadikan dan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa istiqomah dalam menjalankan keta’atan kepada-Nya. Golongan orang-orang yang tak pernah putus dari ibadah shalat di manapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Amiin.

Allahu a’lam

Oleh: Ust. Fachri Fahrudin, S.H.I.

1 reply

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] Dengan demikian sebaik-baik shaf wanita adalah shaf pertama sebagaimana shaf-shaf pada kaum pria, karena keberadaan tabir pembatas itu dapat menghilangkan kekhawatiran terjadinya fitnah. Dengan menjaga shaf yang baik maka kita akan semakin memaknai shalat kita dan Meraih Kenikmatan dalam Shalat. […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *