Menjaga Kebersihan

Menjaga Kebersihan Menjaga Keimanan. Empat kata ini kelihatan sederhana, menarik karena sudah menjadi kewajiban namun secara moralitas akibatnya menyangkut kehidupan manusia baik secara fisik, mental & spiritual menjadi satu kesatuan secara keseluruhan. Menjaga kebersihan juga dapat menunjukkan tingkat keimanan kita, tingkah laku sehari-hari dan bagaimana kita berinteraksi, berkomunikasi tidak hanya dengan keluarga, sesama manusia & ciptaanNya, dan akhirnya dengan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Wah hubungannya apa ya?

Begini, penulis sewaktu kecil dibesarkan dalam masyarakat yang menganut nilai-nilai untuk menjaga kesehatan sealami mungkin dan kebesihan sejak dini. Sejak usia balita, setiap pagi saya dan termasuk para cucu lainnya berderet dihadapan nenek untuk menjalani ritual minum sesendok kopi hangat jahe dengan alasan kesehatan jasmani. Begitu pula nenek mengajarkan minum jamu atau minuman herbal seperti daun sirih untuk menghilangkan bau badan dan antiseptic alami. Ini berlaku buat cucu laki-laki dan perempuan. Ini hanya sekedar contoh bagaimana kita diajari membersihkan badan fisik kita.

Penulis punya pengalaman waktu menemani putri kesayangan nonton film bareng teman-temannya yang berulang tahun. Waktu makan bersama tidak ada masalah, begitu nonton film di bioskop baru kelihatan teman-temannya sembarangan meletakkan kotak tempat pop corn dan botol plastik sisa minuman, masih ada sisa makanan. Terus terang penulis sempat menegur temannya supaya mengambil dan menempatkan sampah sisa makanan mereka ke tempat sampah. Hanya satu anak yang melakukan, sisanya dua orang anak hanya menatap aneh ke saya dan lanjut keluar ruangan. Batin saya kok anak-anak seumuran SD begini seharusnya sudah diberitahu mengenai kewajiban membuang sampah ditempatnya, makanpun tidak boleh sembarangan & berantakan. Saya jadi berpikir panjang apakah di lingkungan keluarganya orang tuanya tidak mengajarkan hal-hal mendasar mengenai kebersihan, pentingnya moral budaya malu apabila membuang sampah sembarangan. Kalaupun sudah ada pengajaran disekolah, mengapa anak-anak masih cuek dan sembarangan saja buang sampah di tempat umum. Perilaku anak sejak dini sampai dewasa dalam menjaga kebersihan mencerminkan berhasil tidaknya orangtua dalam mengajarkan kebersihan di rumah.

Demikian juga perilaku seseorang menunjukan tingkat derajat kebersihannya, semakin menjaga kebersihan semakin halus budi bahasa karena seseorang tersebut sudah terbiasa menjaga kebersihan pastinya akan menjaga pola berpikirnya. Hati dan pikirannya tidak tenang manakala melihat pandangan didepannya menunjukkan ketidak teraturan, sampah berserakan, atau melihat sesuatu atau perilaku yang tidak pada tempatnya. Seseorang yang terbiasa menjalani pola hidup bersih, memiliki pikiranyang bersih, biasanya tidak hanya tipe orang yang bersimpati terhadap orang lain akan tetapi juga memiliki sifat yang empati, yaitu karakter atau perilaku orang yang dapat menunjukkan atau merasakan perasaan yang sama apabila orang lain mengalaminya peristiwa baik atau buruk.

Menjaga kebersihan tidak harus memiliki barang-barang yang mahal atau mewah, cukup dengan cara & biaya yang sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan perilaku kita. Misalnya pakaian yang kita kenakan sehari-hari dicuci tiap hari, sebaiknya untuk perangkat ibadah kita pun juga harus bersih setidaknya untuk pemakaian di rumah 3-5 hari sudah harus dicuci. Kalau di luar rumah karena sering dipinjam atau dipakai orang sebaiknya setiap hari tergantung frekuensi pemakaian. Sebagai contoh kalau kita bertemu orang lain saja pada acara tertentu seperti pernikahan, sunatan, undangan perayaan perak atau emas perkawinan, reuni dengan teman kuliah, bahkan arisan. Persiapan ritual kita banyak seperti mulai dari mandi, pakai pakaian bersih, kalau perlu pergi ke salon untuk dandan, kadang mengenakan pakaian khusus atau seragam, ini membutuhkan waktu dan biaya ekstra diluar biaya sehari-hari.

Sekarang mari kita melakukan refleksi diri, ini termasuk penulis sendiri sebagai pengingat. Mari kita bandingkan dengan persiapan kita dalam lima kali sehari kebutuhan untuk menghadap kepada Allah, SWT, sang Khalik, yang memiliki kekayaan pada segala yang ada dilangit dan bumi. Yang mengetahui apa saja yang disembunyikan didalam hati setiap manusia ciptaanNya, untuk menyatakan perasaan rindu bertemu denganNya, perasaan lemah dan ketidakberdayaan ketika menghadapNya. Tentu saja kita melakukan ritual mandi, wajib terutama sesudah berhubungan dengan pasangan kita. Bagaimana dengan pakaian kita? Khusus bagi kaum perempuan yang bekerja dikantor dan dirumah, sekali lagi penting untuk diingatkan bukan persoalan harga pakaian tetapi kebersihan yang utama. Bersih, rapi & menarik. Begitu juga dengan mukena yang kita kenakan. Kebayang kan betapa jijiknya bila mau shalat bagian lobang kepala mukena kena dasar bedak coklat tebal atau bahkan lembab, timbul jamur-jamur bintik hitam disekelilingnya. Wih, kita yang mau shalat saja jijik rasanya, apalagi yang mau menilai ibadah kita, malaikatpun pasti menjauh. Lebih lanjut, coba kita perhatikan mukena yang ada di rumah kita dulu, baru kemudian yang ada di kantor, di mall, di masjid, dan tempat umum lainnya.

Bersih & wangi adalah kunci. Apabila perangkat sholat bersih apalagi wangi, hmm kita makin rajin untuk beribadah, bukan? Rajin untuk berdoa, mendoakan orang-orang yang kita sayangi. Penulis punya pengalaman pernah mencuci perangkat sholat mukena & sajadah sewaktu bekerja di kantor dulu. Meskipun bukan mukena sendiri. Hati akan risih, bagaimana doa-doa kita akan dikabulkan kalau soal menghadap saja kita tidak siap dan tidak bersih. Bagaimana mungkin kita bisa berteman dengan seseorang yang mampu berpakaian bermerek & mahal sedangkan peralatan sholatnya tidak diperhatikan kebersihannya. Walaupun kita tidak mengatakan langsung kepada orang tersebut namun batin kita atau orang lain akan memandang penuh keheranan bahkan jijik dengan perasaan geli dan risih. Teman penulis pernah menceritakan neneknya kalau setiap sholat selalu mengenakan baju terbaiknya, selalu berbersih diri dan dandan dan selalu tersenyum dalam memulai membacakan doa-doa shalat. Ikhlas dan rindu akan sang Khalik terpancar dalam rona mata dimukanya. Indah dan mesra sekali.

Perbandingan contoh diatas mengingatkan kita kembali untuk sekali lagi bersih diri, bersih sikap dengan bersih perilaku denga cara membersihkan perangkat sholat kita terutama mukena bagi kaum perempuan. Mukena yang bersih, wangi, tertata dan dilipat rapi, dengan perangkat sholat lain sajadh, tasbih, buku doa, akan membuat kita semakin rajin meningkatkan ketakwaan kita. Mari kita bersihkan mukena kita dan juga ikhlaskanlah dengan sukarela untuk menjaga kebersihan mukena yang dipakai oleh orang lain. Insya allah niat yang baik akan dibalas dengan kebaikan pula. Insya allah suatu hari nanti apabila sudah waktunya kita berpulang dari dunia fana ini kita sudah siap berbersih diri sebelum bertemu denganNya. Amin YRA.

Oleh : Evin Sofia, SH, MM | Pengamat Sosial

1 reply

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] belajar? Ya, karena perilaku bersih diawali dengan penanaman nilai akan pentingnya kebersihan. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Luar biasa Islam menempatkan kebersihan dalam kehidupan. Belum lagi ditambah nilai-nilai budaya, […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *