Mengajarkan Kebaikan

Sebagaimana kebanyakan orang di zaman sekarang, saya kerap menggunakan pesan teks dalam berkomunikasi. Teman saya, si fulan, selalu menulis salam di setiap awal percakapan kami dan tidak pernah disingkat. Kalau tidak menulis, “assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” minimal fulan menulis “assalamu’alaikum”. Pernah saya tanyakan mengapa senantiasa menulis lengkap tidak seperti kebanyakan orang yang menggunakan singkatan “aww” atau “asw” atau “asslmkm” supaya lebih hemat waktu, hemat energi dan hemat kuota huruf. Jawabnya, karena berharap mendapat keberkahan/pahala yang lebih dengan mendoakan lawan “bicara”nya melalui salam yang disampaikan dengan benar. Bila disingkat maka artinya akan berbeda bahkan bisa hilang makna sama sekali. Mendengar jawaban itu, saya berfikir…. Ketika kita menuliskan salam itu tentunya kita ingin mengucapkan salam yang mengandung doa bagi orang yang dituju dan ketika salam itu tidak disampaikan dengan baik maka akan hilang tujuan awalnya. Waktu, energi dan biaya yang dicurahkan untuk mendoakan orang yang dituju oleh kita insya Allah ada nilai pahalanya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amin.

Tidak hanya soal salam, fulan juga kerap menuliskan kata-kata yang mengandung makna yang baik dalam pesan teksnya seperti jazakallahu (semoga Allah memberi balasan yang lebih baik), barakallahu fikum (semoga Allah memberikan keberkahan atas dirimu) dan lainnya. Bagi sebagian orang hal itu terasa berlebihan namun bagi fulan hal itu baik dan tidak merugikan siapa-siapa bahkan membawa kebaikan. Tidak sedikit penerima pesan si fulan akan bertanya tentang artinya dan ketika mengetahui makna dibalik kata tersebut, si penerima pesan kemudian juga membiasakan untuk menggunakan kata-kata baik tersebut. Tidak hanya pahala mendoakan teman, si fulan pun insya Allah mendapat pahala membagi ilmu yang diamalkan. Amin.

Membiasakan melakukan sesuatu yang baik (Jangan meremehkan berbuat baik), meskipun sesuatu yang sangat sederhana, sangatlah dianjurkan. Besar kemungkinan kebiasaan baik yang biasa kita lakukan kemudian ditiru oleh orang lain dan orang itu menjadikan perbuatan baik itu sebagai kebiasaannya. Demikian perbuatan baik itu kemudian ditiru lagi oleh orang-orang disekitar kita dan orang-orang di sekitar orang yang meniru kebiasaan baik itu. Terus menerus, sambung menyambung menularkan kebiasaan baik. Tanpa kita sadari ada balasan pahala yang besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menanti dari amal shalih menularkan kebiasaan baik.

Melakukan kebiasaan-kebiasaan baik, bertutur kata dan berperilaku baik, termasuk didalamnya memberi teladan atas kebiasaan yang baik adalah hal yang amat penting khususnya di masa sekarang ini. Pengaruh budaya non muslim yang sedemikian gencarnya mempengaruhi pola hidup kaum muslim pagi, siang dan malam melalui berbagai tayangan media elektronik, media teks, media audio dan visual. Acara televisi yang pemerannya menjelek-jelekkan pemeran lain dengan ledekan yang bersifat fisik, memanggil dengan panggilan buruk, tampilan laki-laki yang berdandan/bergaya seperti perempuan atau sebaliknya, serta tayangan berita fitnah, mengumbar aib di muka umum dan mempertontonkan aurat; majalah yang isinya foto-foto dengan pakaian yang minim dan mengandung pornografi; serta film dan/atau lagu yang memuat kandungan makna bersifat maksiat dan/atau kemusyrikan. Kesemuanya memberi andil bagi pembentukan perilaku umat muslim dengan teladan yang tidak baik dan merusak moral. Tugas kita sebagai umat muslim, harus saling mengingatkan, saling menasihati dan melindungi keluarga dan sesama muslim dari keterpurukan moral dan iman, dengan memberikan contoh teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari hal yang kecil, yang melibatkan diri sendiri kemudian ditularkan kepada orang-orang terdekat dan disekitar kita, kemudian bersatu, bersama-sama membuat hal yang besar yang bisa berdampak kepada masyarakat yang lebih luas.
Mengenai keutamaan orang yang mengajarkan kebaikan, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya serta penduduk langit dan bumi, sampai semut di sarangnya, bahkan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 1838]

Insya Allah dengan niat yang tulus dan lurus karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita diberi kekuatan lahir bathin untuk dapat memberikan teladan yang baik bagi orang-orang di sekitar kita. Aamiin ya Rabb’alamiin.

Penulis: DSG

2 replies

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] kebaikan hendaklah dilakukan baik itu ucapan maupun perbuatan. Kebaikan apa pun jangan diremehkan. Kebaikan itu adalah bagian dari berbuat ihsan. Allah mencintai orang-orang muhsin (yang berbuat […]

  2. […] sang anak merasa bangga dan mulia dengan nilai-nilai keislaman yang dimilikinya (baca artikel : Mengajarkan Kebaikan). Sehingga pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh lingkungan atau media yang tidak mendidik bisa […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *