Perintah Menyembelih ujian Nabi Ibrahim Alaihissalam

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ، اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلَاؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لِيُصِيبَهُ الْبَلَاءُ حَتَّى يَمْشِيَ فِي النَّاسِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Manusia dengan cobaan terberat adalah para nabi, lalu yang semisalnya, dan yang semisalnya, masing-masing diuji sesuai kadar imannya. Barang siapa kuat imannya maka berat ujiannya, dan barang siapa lemah imannya maka ringan ujiannya. Semua orang pasti akan diuji sehingga gugur dosa-dosanya.[1]

Pada kesempatan ini, kita akan lihat bagaimana Nabi Ibrahim –imamnya ahli tauhid dan kekasih Allâh- memberi contoh kepada kita cara bersabar menghadapi cobaan.

1. Ketika diperintah untuk membawa istri dan putranya (Isma’il) ke lembah tak bertuan lagi tandus. Beliau laksanakan perintah itu dengan penuh keyakinan dan tawakkal kepada Allâh, sehingga Allâh menunjukkan jalan keluar bagi keduanya, dan menurunkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

2. Selang beberapa tahun, Allâh perintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayangnya (Isma’il), yang dikaruniakan padanya setelah berusia 80 tahun. Beliau pun tunduk terhadap perintah Rabbnya. Dan sungguh ini adalah cobaan yang teramat berat, sebagaimana Allâh firmankan:

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. [As-shâffât /37: 106]

Kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih putranya ini termaktub dalam firman Allâh yang artinya:
Dan Ibrahim berkata,”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku! Anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. [As-shâffât /37: 99-113]

Dari ayat-ayat yag mulia di atas kita dapat mengambil beberapa pelajaran berikut:

Pelajaran Pertama:
Doa memohon keturunan yang baik menjadi perhatian khusus para nabi dan orang shalih
Dalam banyak ayat Allâh menerangkan kepada kita bahwa para nabi dan orang-orang shaleh terdahulu tekun memanjatkan doa, memohon keturunan yang baik. Perhatikanlah para nabi berikut:

1. Ketika Nabi Ibarahim meninggalkan kota asalnya, beliau berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla agar dikarunia putra yang shaleh, lalu Allâh Azza wa Jalla kabulkan permohonannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Ya Rabbku! Anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalehMaka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. [As-shafat/37:100-101].

2. Nabi Zakaria yang tekun memanjatkan doa agar dikaruniai keturunan yang baik. Allâh berfirman:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakariya berdoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku! Berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” [Âli ‘Imrân/3:38]

3. Para hamba Allah yang shaleh, mereka juga memanjatkan doa:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata, “Wahai Rabb kami! Anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [Al-Furqân /25: 74]

Selain memohon dikarunia keturunan yang baik, para nabi dan orang-orang shaleh juga memohon agar Allâh menjaga dan menjadikan ketururan mereka sebagai para hamba yang berserah diri kepada-Nya. Mereka melakukan ini dengan beberapa alasan:

1. Karena jika sang anak meninggal di usia belia, kelak pada hari kiamat akan menjadi penolong bagi kedua orang tuanya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ الْجَنَّةَ قَالَ يُقَالُ لَهُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ فَيَقُولُونَ حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا فَيُقَالُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ

Tidaklah dua orang muslim (suami dan istri) yang meninggal tiga orang anaknya sebelum baligh, melainkan Allâh akan memasukkan keduanya kedalam surga disebabkan kasih sayang Allâh kepada anak-anaknya, ketika mereka diseur, “Masuklah kalian kedalam surga!”, Mereka menjawab, “Orang tua kami terlebih dahulu”, Maka diseur, “Masuklah kalian beserta orang tua kalian kedalam surga.[2]

2. Karena anak yang shaleh senantiasa mendo’akan serta membuat hati orang tua menjadi sejuk dan tentram.

3. Karena kebaikan anak yang shaleh terus mengalir bagi orang tuanya, meskipun kedua orang tuanya sudah meninggal. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah (yang terus mengalir), ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakannya.[3]

Pelajaran Kedua:
Allâh selalu memberi jalan keluar dari setiap cobaan
Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam meninggalkan kota asal dan kaumnya dikarenakan mereka menolak dakwahnya, beliau memohon kepada Allâh agar dikaruniai keturunan yang shaleh. Permohonan beliau q ini dikabulkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan putra yang sangat bijak yang diberi nama Ismail. Putra pertama beliau, sebelum kelahiran Ishaq. Ini kesepakatan kaum Muslimin juga ahlul kitab.

Belum lama sejak kelahiran putera kesayangannya, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar membawa anak beserta ibunya ke lembah gersang yang tak berpenghuni dan meninggalkan mereka disana tanpa bekal makan dan minum yang cukup. Dengan sebab tawakkal keduanya, Allâh Azza wa Jalla memberikan jalan keluar dan menganugerahkan rezeki.

Dalam firman Allâh, yang artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, (As-Shâffât/37:102), artinya: ia dalam masa tumbuh kembang, di mana ia bisa pergi dan berjalan bersama ayahnya. Nabi Ibrahim kerap mengunjungi anak dan istrinya yang berada di lembah tak berpenghuni, dekat dengan calon Ka’bah untuk menengok keduanya. Diriwayatkan bahwa beliau mengendarai buraq.[4]

Firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, “Ibrahim berkata, ‘Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (As-Shâffât/37:102)

Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim Alaihissallam memberitahukan mimpi tersebut kepada putranya adalah agar ujian tersebut terasa lebih ringan (saat dijalani-red),  juga untuk menjajaki seberapa dalam kesabaran dan kepatuhan sang anak kepada Allâh serta orang tuanya.

Firman Allâh Azza wa Jalla berikutnya menyebutkan jawaban anak yang shaleh tersebut, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamuInsya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. [As-Shâffat/37:102]

Artinya aku akan bersabar dan mengharap pahala dari-Nya. Dan Nabi Isma’il benar-benar memenuhi janjinya.

Kejadian selanjutnya, diabadikan dalam firman Allâh Azza wa Jalla : Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), [As-Shâffat/37:103]

Artinya, keduanya berserah dan patuh, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allâh dan Nabi Ismail menaati Allâh dan ayahnya. Nabi Ibrahim membaringkan anaknya dengan ditengkurapkan dan akan disembelih di tengkuknya, agar tidak melihat wajahnya, agar lebih ringan bebannya.

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Ketika Nabi Ibrahim diperintah menyembelih Ismail, syaitan datang menghalangi jalan, namun beliau berhasil mendahuluinya. Lalu Malaikat Jibril membawanya ke jumrah ‘Aqabah, syaitan kembali menghalangi sehingga beliau melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil sampai pergi. Lalu syaitan kembali menghalangi beliau di jumrah Wustha dan Nabi Ibrahim melemparinya lagi dengan tujuh biji batu (sampai ia pergi). Setelah itu Nabi Ibrahim menengkurapkan Ismail yang mengenakan pakaian serba putih, Dia berkata, “Ayahku, tidak ada kain lain yang nanti bisa engkau jadikan kafanku selain yang aku kenakan ini, maka lepaslah baju ini dan jadikan sebagai kafanku.” Saat Nabi Ibrahim Alaihissallam hendak melepaskan baju Ismail, terdengar suara dari belakangnya, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (As-shaffât/37:104-105), Nabi Ibrahim menoleh dan ternyata telah ada seekor domba putih bertanduk yang bermata hitam lebar.[5]

Oleh karena itu, Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Syaitanlah yang kalian lempar, agama Nabi Ibrahim yang kalian ikuti.”[6]

Firman-Nya: Dan Kami gantikan untuknya dengan sembelihan yang agung [Ash-Shaffât/37:107]

Yaitu, kami ganti dengan kambing putih yang bertanduk dan bagus matanya.

Perhatikanlah! Ujian yang berat, diakhiri dengan jalan keluar dari Rabb semesta alam.

Pelajaran Ketiga:
Berbakti kepada ayah merupakan akhlaq para nabi
Dalam masalah berbakti kepada orang tua, Nabi Ismail Alaihissalam memberikan contoh terbaik.

1. Ketika ayahnya berkata kepadanya, ‘Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” [As-Shâffât/37:102].

Sebagai anak yang berbakti, Nabi Ismail Alaihissallam menjawab, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamuInsya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. [As-Shâffat/37:102]

2. Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam datang menjenguk Nabi Ismail, namun beliau Alaihissallam tidak bertemu dengannya, lalu berpesan kepada istrinya, “Sampaikan salamku untuknya dan katakan kepadanya agar mengganti kayu palang pintunya!” maka saat Nabi Ismail Alaihissallam menanyakan prihal lelaki itu dan pesannya. Istrinya menjawab, “Dia menitipkan salam dan menyuruhmu mengganti kayu palang pintumu.” Ismail berkata lagi, “Itu ayahku, dan ia menyuruhku untuk menceraikanmu. Sekarang, pulanglah ke keluargamu!”

Nabi Ismail menceraikan istrinya. Ini adalah bentuk baktinya kepada sang ayah.

3. Ketika Nabi Ibrahim datang menjenguknya lagi dan tidak menemukannya juga. Sepulangnya, Nabi Ismail menanyakan lagi pesannya dan melaksanakan pesan itu sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Pesan itu berisi agar tidak menceraikan istrinya itu.

4. Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam mendatanginya sementara Nabi Ismail sedang meraut anak-anak panah di bawah naungan pohon besar dekat dengan sumur Zamzam. Ketika melihat ayahnya ia berdiri menyambutnya, bersikap selayaknya seorang anak kepada bapaknya, dan sebaliknya. Kemudian Ibrahim berkata, “Wahai Ismail! Sesungguhnya Allâh memerintahkanku untuk melakukan sesuatu.” Nabi Ismail Alaihissallam berkata, “Laksanakanlah apa yang Rabbmu perintahkan!” Nabi Ibrahim berkata, “Engkau akan membantuku?” Kata Nabi Ismail, “Ya, aku akan membantumu.” Nabi Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allâh memerintahkan kepadaku untuk membangun Rumah-Nya di sini.”

Lalu Nabi Ismail mulai membawakan batu dan Nabi Ibrahim mulai membangun, sampai bangunan selesai.

Ini juga di antara bentuk bakti Ismail kepada bapaknya.

Jadi, bakti kepada orang tua merupakan akhlak para nabi, karena itu termasuk amalan yang paling Allâh cintai. Oleh karena itu, hendaknya setiap Muslim bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dalam masalah kedua orang tuanya karena Allâh Azza wa Jalla telah berwasiat agar berbuat baik kepada keduanya.

Kesimpulan
Nabi Ibrahim Alaihissallam telah menunjukan contoh yang paling baik dalam melaksanakan perintah Allâh Subhanahu wa Ta’ala meskipun perintah tersebut sangat berat yaitu meninggalkan anak semata wayang dan ibunya di daerah tandus dan tanpa penghuni dilanjutkan dengan perintah menyembelih anak semata wayangnya. Meski sangat berat, beliau Alaihissallam tetap tunduk dan melaksanakannya.

Semoga Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita semua kesiapan untuk senantiasa tunduk terhadap segala perintah Allâh Azza wa Jalla , baik yang kita ketahui hikmahnya ataupun yang tidak diketahui.

Link Artikel Asli

Kesalahan Dalam Wudhu yang Tak Disadari, Ternyata Bisa Membuat Shalat Batal

Ibadah ini merupakan syarat wajib yang harus dilakukan sebelum melaksanakan salat. Jika tidak benar wudhunya, maka akan berpengaruh terhadap kesempurnaan salat.

Namun, sebagai umat Islam masih sering melakukan kesalahan-kesalahan ketika berwudhu. Padahal dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa aktivitas bersuci ini menjadi salah satu penentu apakah salat seseorang diterima atau tidak.

Terkadang seseorang merasa wudhunya sudah benar, namun ternyata masih ada kesalahan yang harus diperbaiki. Lantas bagaimana jadinya salat seseorang jika pada saat berwudhu saja sudah melakukan kesalahan?

Berikut ini beberapa kesalahan yang sering dilakukan orang ketika berwudhu.

Beberapa diantaranya dapat membuat shalat tidak sah karena wudhu dianggap batal.

Tidak membaca Bismillah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sempurna wudhu’ sesorang yang tidak membaca basmallah” (HR. Ahmad)

Para ulama berbeda pendapat apakah basmalah atau mengucapkan “bismillah” hukumnya wajib ataukah sunnah.

Sebagian ulama mewajibkan dengan dalil hadits: “tidak ada shalat bagi yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala” (HR. Ahmad).

Namun jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah karena beberapa hal:

  1. Membaca basmalah tidak disebutkan bersamaan dengan hal-hal wajib lainnya dalam surat Al Maidah ayat 6
  2. Keumuman hadits-hadits yang menjelaskan mengenai cara wudhu Nabi, tidak menyebutkan mengucapkan basmalah (lihat Asy Syarhul Mumthi’, 1/159).
  3. Makna “tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala” adalah penafian kesempurnaan wudhu (lihat Asy Syarhul Mumthi’, 1/158 – 159).

Namun demikian, baik beranggapan hukumnya sunnah ataupun wajib, meninggalkannya dengan sengaja adalah sebuah kesalahan.

Tidak mencuci lengan hingga siku

Seringkali orang meremehkan hal ini. Berwudhu sekedarnya saja yang penting tangan basah sehingga tidak diperhatikan apakah airnya sudah mencapai siku atau belum.

Atau semisal kalau lagi memakai baju lengan panjang dan malas untuk menggulung, sehingga menggulungnya pun tidak melebihi siku jadi basuhan air wudhu juga tidak menyentuh sikunya.

Padahal Allah Ta’ala berfirman mengenai rukun wudhu (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku..” (QS. Al Maidah: 6).

Tidak mencuci kaki hingga mata kaki

Kasusnya hampir sama dengan lengan siku, saat sedang berwudhu banyak orang meremehkan dan lalai mencuci kaki hingga sampai ke mata kaki.

Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Shahihnya. Dari Muhammad bin Ziyad, dia berkata: “Aku mendengar Abu Hurairah—saat itu beliau melewati kami, dan orang-orang sedang berwudhu:

“Sempurnakanlah wudhu kalian, sesungguhnya Abul Qosim (Rasulullah) bersabda: “Celakalah tumit-tumit (yang tidak terbasuh air ketika berwudhu) dari api neraka.”

Dan dari Khalid bin Mi’dan dari sebagian istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya Rasulullah melihat seorang laki-laki yang shalat sedangkan di punggung kakinya terdapat bagian mengkilap karena tidak terbasuh oleh air wudhu seukuran uang dirham (uang logam), maka Nabi menyuruhnya untuk mengulang wudhunya.” (HR. Ahmad)

Kurang sempurna membasuh wajah

Untuk masalah kali ini sering terjadi dikarenakan kurangnya pemahaman akan batasan bagian wajah yang harus dibasuh sebagaimana ditentukan dalam syariat Islam.

Imam Al Qurthubi dalam Al Jami’ li Ahkam Al Quran berkata, “Al wajhu menurut bahasa diambil dari kata ‘al muwajahah’ (berhadap-hadapan), yaitu anggota badan yang meliputi beberapa anggota, memiliki batasan panjang dan lebar; Batasan panjangnya adalah dari ujung kening hingga ujung dagu, sedangkan batasan lebarnya adalah dari telinga ke telinga.”

Sementara itu, ahli tafsir yang lain, Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Batasan wajah menurut para ahli fiqih adalah, ‘Panjang: antara tempat tumbuhnya rambut, kepala gundul tidak dianggap, hingga ujung dagu, sedangkan lebar antara kedua telinga.”

Maka ketika berwudhu membasuh wajah, seharusnya air diusap sampai menyentuh batas rambut di atas kening, lalu sampai ke samping hingga tepi daun telinga, dan ke bawah sampai ujung dagu. Yang memiliki jenggot maka jenggotnya juga turut dibasuh sampai ke sela-sela.

Sedangkan untuk bagian bawah dagu, yakni yang berada di bawah tulang rahang maka hal tersebut bukan termasuk wajah.

Boros dalam penggunaan air.

Sifat boros dalam menggunakan air adalah kesalahan yang juga sering dilakukan.  Dan fenomena ini juga sudah disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak dulu.

Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam kitab Sunannya, dari hadits ‘Abdullah bin Mughaffal, dia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَيَكُوْنُ فِي هَذِهِ اْلأُمَّةِ، قَوْمٌ يَعْتَدُوْنَ فِي الطَّهُوْرِ وَالدُّعَاءِ.

“Akan ada di umat ini suatu kaum yang melampaui batas (berlebihan) dalam bersuci dan berdo’a.” (HR. Abu Dawud no. 96)

Padahal ini adalah terlarang berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-An’am: 141 dan Al-A’raf: 31).

Rasulullah pun bersabda tentang hal ini: “Janganlah kalian boros dalam (penggunaan) air”, maka beliau (Sa’ad) berkata, “Apakah dalam (masalah) air ada pemborosan?”, beliau bersabda, “Iya, walaupun kamu berada di sungai yang banyak airnya” (HR. Ahmad)

Anas bin Malik radhiallahu’anhumenyatakan, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya berwudhu dengan 1 mud air dan mandi dengan 1 sha’ sampai 5 mud air” (HR. Bukhari 201, Muslim 326)

Sedangkan konversi 1 mud para ulama berbeda pendapat antara 0,6 sampai 1 liter. Sungguh hemat sekali bukan? Boleh saja berwudhu dengan air keran dan lebih dari 1 mud selama tidak berlebih-lebihan dan tetap berusaha untuk menghemat.

Imam Ahmad berkata, “Termasuk ketidakfaqihan seseorang adalah, apabila menyukai (banyak) air (dalam bersuci).”

Lupa mengusap sela-sela jari

Ketika seseorang berwudhu dengan membasuh kedua tangannya, maka bagian jari satu dengan lainnya terkadang tidak ikut terbasahi.

Padahal, bisa jadi pada bagian itu terdapat kotoran atau najis yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan menyelanya. Oleh karena itulah disunahkan untuk menyela jari kedua tangan dan kaki saat berwudhu.

Berdasarkan sabda Rasulullah, “Jika kalian berwudhu maka renggangkanlah jari kedua tangan dan kaki (agar terbasahi air).” (HR. Ibnu Majah).

Menurut jumhur ulama, menyela jari-jari dalam wudhu adalah disyari’atkan, baik jari kedua tangan maupun jari kedua kaki. Demikian ini adalah pendapat  mazhab Hanafi, Syafi’i, Hanbali dan juga merupakan pendapat Ibnu Rusyd dari kalangan mazhab Maliki. [Muqaddimat Ibnu Rusyd, 1/85]

Berdasarkan sabda Rasulullah ketika seseorang minta untuk diajarkan cara berwudhu, beliau bersabda, “Sempurnakanlah wudhu, renggangkanlah jari-jari, berlebihlah dalam berkumur-kumur dan istinsyaq, kecuali engkau sedang berpuasa.” (HR. Abu Dawud)

Maryam, satu-satunya wanita yang di sebut dalam Al Quran

Di dalam Alquran, biasanya disebutkan nama Nabi serta orang saleh dan kebanyakan adalah berjenis kelamin laki. Tetapi untuk yang satu nama orang ini dari kalangan perempuan.

Allah SWT, tidak menyebutkan nama perempuan lain selain dirinya, bahkan nama perempuan ini disebutkan sebanyak 30 kali kesempatan dalam Al Quran.

Nah satu-satunya wanita yang disebut di dalam Al Quran yaitu Maryam binti Imran ra, dan saking mulianya perempuan ini, Allah SWT memutihkan kehormatannya dalam suatu surah, yaitu Surah Maryam.

Allah SWT berfirman :
“(ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya. Maka Kami tiupkan kedalam rahimnya sebagain dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabb-Nya dan kitab-kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat”. (QS. At-Tahrim: 12).

“Allah SWT tidak menyebutkan nama seorang pun perempuan dalam kitab-Nya selain Maryam binti Imran ra.

Allah menyebutkan namanya dalam 30 kali kesempatan, karena mengandung hikmah sebagaimana yang disebutkan para ulama. Bahkan para raja dan orang-orang terpandang tidak pernah menyebutkan nama istrinya di depan rakyat, dan tidak pula mem-populerkan nama mereka. Tetapi mereka menyebut nama istrinya dengan ungkapan, pasangan, ibu, keluarga kerajaan dan lain seterusnya.

“… Namun ketika mereka bersikat terhadap budak, mereka tidak merahasiakannya dan tidak menyembunyikan namanya. Ketika orang Nasrani mengatakan bahwa Maryam istri Tuhan dan Isa Anak Tuhan, Maka Allah SWT terang-terangan menyebut nama Maryam. Dan tidak Allah sembunyikan dengan budak Allah atah Hamba Allah, yang merupakan sifat asli Maryam. Dan Allah SWT jadikan hal ini sebagai kebiasaan masyarakat Arab dalam memyebutkan budaknya.” (Tafsir Al-Qurthubi).

Az-zarkasi menambahkan, “Sesungguhnya Isa terlahir tanpa bapak. Ini keyakinan yang wajib kita miliki. Ketika keterangan nasabnya ke ibunya disebutkan berulang-ulang, maka akan muncul perasaan dalam hati, berupa keyakinan bahwa beliau tidak memiliki bapak. Dan memutihlah nama baik ibunya sang wanita suci dari perkataan kotor orang Yahudi- Semoga Allah melaknat mereka”. (Al-Burhan fi Ulum Al-Quran)

Inilah alasan kenapa hanya nama maryam yang disebutkan dalam Al Quran. Selain ingin meninggikan derajat wanita, Allah juga menegaskan bahwa Maryam bukanlah istri Tuhan. Melainkan Perempuan Suci yang selalu menjaga kehormatannya.

Rahasia Allah Dibalik Penetapan Waktu-waktu Sholat Wajib

Banyak umat yang mengkritisi atau mempertanyakan sebagai bahan pengentahuan, waktu shalat wajib. Di antaranya, kenapa shalat zhuhur ditempatkan pada siang hari dengan jumlah 4 rakaat, begitupun shalat-shalat yang lainnya?

Bagi sebagian umat Islam pertanyaan seperti ini biasa dilontarkan oleh orang-orang yang kritis pada sesuatu yang realitanya dan tidak dapat diambil kesimpulan sendiri.

Dengan penetapan waktu yang begitu teratur sampai-sampai shalat maghrib yang di tempatkan seusai umat melakukan urusan pekerjaan dan dengan jumlah 3 rakaat. Penyesuaian ini yang menjadi kesyukuran bagi umat islam hari ini.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman,” (QS, An-Nisa : 103)

Penentuan waktu-waktu shalat farhu ini berdasarkan kepada hadist-hadist shahih, di antaranya riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata:

Bahwa Nabi bersabda:
Jibril telah mengimami aku di Baitullah dua kali. Yang pertama dia melaksanakan shalat zhuhur bersamaku ketika matahari tergelincir.

Bayangan saat itu sepanjang tali sandal.Dia shalat ashar bersamaku ketika panjang bayangan sama dengan bendanya. Dia shalat ashar bersamaku ketika panjang bayangan sama bendanya. Dia shalat maghrib bersamaku ketika matahari terbenam dan berbukanya orang yang berpuasa.

Dia shalat isya bersamaku ketika mega merah telah menghilang. Dia shalat fajar (shalat shubuh) bersamaku ketika fajar merekah dan terlarangnya makan atas orang yang berpuasa.

Yang kedua, dia shalat zhuhur bersamaku ketika panjang bayangan sama dengan bendanya. Dia shalat ashar ketika panjang bayangan dua kali lipat dari bendanya. Shalat maghrib seperti waktu pertama.

Kemudian shalat isya (yang diakhirkan) sampai sepertiga malam pertama. Lalu shalat shubuh ketika munculnya warna kekuning-kuningan di Ufuk Timur.

Kemudian jibril menoleh kepadaku seraya berkata: Ya Muhammad, Inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu. Waktu shalatmu di antara kedua waktu itu,” (HR. At-Tirmidzi).

Sungguh Maha Bijaksananya Allah SWT dalam menempatkan waktu-waktu shalat sesuai dengan kemapuan umat Nabi Muhammad SAW.