Shaf Bagi Wanita Dalam Shalat

Apakah shaf wanita dalam shalat harus diluruskan dan ditertibkan? Apakah hukum shaf pertama sama dengan shaf-shaf lainnya?

Hukum-hukum yang ditetapkan dalam shaf-shaf wanita sama dengan hukum-hukum yang ditetapkan dalam shaf-shaf pria dalam hal meluruskan, menertibkan dan mengisi shaf yang kosong. shaf yang pertama adalah yang lebih utama dari pada shaf yang dibelakangnya dan seterusnya, karena shaf terdepan ini lebih dekat kepada kiblat dan shaf yang terdepan lebih dekat kepada imam.

Apa maksud hadits “Sebaik-baiknya shaf wanita (dalam shalat) adalah shaf paling belakang.” Apa maksud hadits “Sebaik-baiknya shaf pria adalah shaf terdepan dan seburuk-buruknya adalah shaf yang terakhir, dan sebaik-baiknya shaf wanita adalah shaf yang terakhir, dan seburuk-buruknya adalah shaf terdepan.

Alasan bahwa sebaik-baiknya shaf wanita adalah shaf yang paling belakang ialah karena shaf yang paling belakang itu adalah shaf yang paling jauh dari kaum pria, semakin jauh seorang wanita dari kaum pria maka semakin terjaga dan terpelihara kehormatannya, dan semakin jauh dari kecenderungan terhadap kemaksiatan. Akan tetapi jika tempat shalat kaum wanita jauh atau terpisah dengan dinding atau pembatas sejenis lainnya, sehingga kaum wanita itu hanya mengandalkan pengeras suara dalam mengikuti imam, maka pendapat yang kuat dalam hal ini adalah, bahwa shaf yang pertama adalah yang lebih utama dari pada shaf yang dibelakangnya.

Dengan demikian sebaik-baik shaf wanita adalah shaf pertama sebagaimana shaf-shaf pada kaum pria, karena keberadaan tabir pembatas itu dapat menghilangkan kekhawatiran terjadinya fitnah. Dengan menjaga shaf yang baik maka kita akan semakin memaknai shalat kita dan Meraih Kenikmatan dalam Shalat.

Dikutip dari buku Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin

Meraih Kenikmatan dalam Shalat

Seringkali hati kita diliputi mendung jejak-jejak kemaksiatan, sehingga menggelapkan hati dan membekukan keimanan. Hati keras, mata ”kering” tak bisa menangis, badan labil dan tidak ada perenungan terhadap ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala. Ibadah menjadi satu hal yang berat bagi jiwa sebagian orang. Kalau pun ia mengerjakan ibadah, namun mengerjakannya tanpa keikhlasan, kekusyu’an (Meraih Shalat yang Khusyu) dan pengharapan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hal itu tidak lain karena merasuknya kotoran ke dalam hati kita dan hati tidak mungkin kembali ke kondisi yang ideal kecuali dengan membersihkannya dari semua kotoran yang melekat padanya.

Salah satu faktor utama yang dapat mendatangkan thuma’nīnah (ketenteraman) dan sakīnah (ketenangan) hati adalah dengan merasa nyaman tatkala bermunājāt kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta merasa lezat tatkala berdzikir dan memuji-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’d [13]: 28)

Di antara bentuk bermunajat yang paling agung kedudukannya di sisi Allah adalah shalat. Jika seseorang diliputi ketakutan, dihimpit kesedihan, dan dicekik kerisauan, maka segeralah bangkit untuk melakukan shalat, niscaya jiwa akan kembali tenteram dan tenang. Sesungguhnya, shalat itu — atas izin Allah — sangatlah cukup untuk hanya sekadar menghilangkan kesedihan dan kerisauan. Setiap kali dirundung kegelisahan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam selalu meminta kepada Bilal ibn Robbah radhiallahu anhu, “Tenangkanlah kami dengan shalat, wahai Bilal”.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah [2]: 153)

Meraih Kenikmatan dalam Shalat

Ibnu al Qoyyim rahimahullah menyebutkan bahwa khusyu’ adalah ketundukan hati kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara menagungkan-Nya, takut, dan malu kepada-Nya. Lalu hati pasrah kepada-Nya dalam bentuk kepasrahan yang disertai takut dan malu, mengakui nikmat-nikmat-Nya dan kesalahan-kesalahan dirinya. Hal ini tentunya bukanlah sesuatu yang tidak bisa diraih dan diusahakan walau harus dengan keras dan latihan yang melelahkan.

Di antara upaya mewujudkan kenikmatan dan kekhusyu’an dalam shalat adalah:

  • Bersegera memenuhi panggilan adzan.
  • Meyingkirkan hal-hal yang bisa merusak kekhusyu’an
  • Seakan-akan itu adalah shalat yang terakhir kali yang kita lakukan.
  • Membaca dengan tartil dan suara yang baik
  • Tadabbur
  • Berlindung dari setan

Keikhlasan membutuhkan keikhlasan
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Mulk [67]: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala jadikan dalam ayat ini bahwa dalam menentukan tingkatan manusia, barometernya adalah hasan (yang baik). Jadi permasalahannya bukan kuantitas tetapi kualitas. Satu hal yang menjadi faktor terpenting untuk kualitas amal ibadah agar dikatakan sebagai amal yang hasan adalah keikhlasan. Bahkan substansi amal itu sendiri sebenarnya adalah keikhlasan. Ketika keikhlasan tidak ada, maka ada tidaknya sebuah amal menjadi sama aja.

Betapa para Shadiqun sendiri mengalami problem dalam masalah keikhlasan. Tapi tak apalah, langkah pertama adalah melakukan dan merasakan, tetapi perlu sabar, mushobarah dan mujahadah agar dirinya bisa sampai tujuan meskipun setelah sekian lama. Hati-hati jangan termakan oleh amal perbuatanmu, sebagian salaf menyebutkan “Barang siapa yang mengira ikhlas pada keikhlasan dirinya, maka keikhlasannya butuh keikhlasan”.

Bagi generasi umat manusia yang sedang banyak menderita penyakit kejiwaan seperti saat ini, hendaklah rajin mengenal masjid dan menempelkan keningnya di atas lantai tempat sujud dalam rangka meraih ridho dari Robb-nya. Dengan begitu, niscaya ia akan selamat dari berbagai himpitan bencana. Akan tetapi, bila ia tidak segera mengerjakan kedua hal tadi, niscaya air matanya justru akan membakar kelopak matanya dan kesedihan akan mehancurkan urat syarafnya.

Maka, menjadi semakin jelas bahwa, seseorang tidak memiliki kekuatan apapun yang dapat mengantarkannya kepada ketenangan dan ketenteraman hati selain shalat. Salah satu nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang paling besar —jika kita mau berpikir— adalah bahwa shalat wajib lima waktu dalam sehari semalam dapat menebus dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita di sisi Robb kita. Bahkan, shalat lima waktu juga dapat menjadi obat paling mujarab untuk mengobati berbagai kekalutan yang kita hadapi dan obat yang sangat manjur untuk berbagai macam penyakit yang kita derita.

Akhirnya kita berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar kita dijadikan dan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa istiqomah dalam menjalankan keta’atan kepada-Nya. Golongan orang-orang yang tak pernah putus dari ibadah shalat di manapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Amiin.

Allahu a’lam

Oleh: Ust. Fachri Fahrudin, S.H.I.

Mengenalkan anak pada adab Islami

Anak merupakan karunia dan anugerah terindah yang didamba-dambakan oleh setiap pasangan suami istri, bahkan eksistensi kebahagiaan sebuah bahtera rumah tangga akan terasa kurang sempurna tanpa kehadiran sang buah hati tersebut. Anugerah mulia ini akan melengkapi keharmonisan hidup berumah tangga serta menjadi penyejuk hati bagi orang tuanya. Apabila sang anak dibesarkan di bawah naungan cahaya al-Quran, tumbuh di taman-taman as-Sunnah yang disirami dengan mata air para salafus shalih. Akan tetapi anugerah tersebut akan membawa petaka atau bencana bagi kedua orang tuanya, jika mereka tidak mendidiknya dengan norma-norma keislaman atau bahkan membiarkan anaknya tumbuh berkembang di lingkungan jahiliyyah (non islami) yang berpotensi merusak akhlak dan meracuni kefitrahan jiwanya.

Urgensi mengenalkan adab islami pada anak

Oleh karena itu, pendidik dan orang tua pada khususnya memiliki peran penting dalam mencetak pribadi-pribadi anak yang mengerti dan perhatian terhadap adab-adab Islami, sang anak merasa bangga dan mulia dengan nilai-nilai keislaman yang dimilikinya (baca artikel : Mengajarkan Kebaikan). Sehingga pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh lingkungan atau media yang tidak mendidik bisa terbendung dan terminimalisir.

Di dalam al-Quran al-karim, tepatnya di surat Luqman mulai dari ayat ke 13-19, Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan tentang bagaimana pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh Luqman al Hakim (seorang yang shalih) kepada anaknya yang menunjukkan betapa pentingnya pengajaran sang anak tentang adab islami.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sejak dini telah memberikan tuntunan kepada umatnya agar mengajarkan anak-anak mereka dengan adab-adab islam ini, seperti sabda beliau berikut;
“Ajarilah anak-anak kalian shalat apabila usia mereka sudah mencapai tujuh tahun dan pakullah (pukulan mendidik)mereka (jika enggan) apabila usianya sepuluh tahun.” (HR. al-Bazzar dan dishahihkan oleh syaikh al-Albani)

Jadi, sejak belasan abad yang lalu, Islam telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan secara umum dan pendidikan anak secara khusus sebagaimana yang disinyalir dalam ayat dan hadits di atas.

Mungkin para orang tua bertanya-tanya tentang apa sebenarnya adab-adab islami tersebut yang harus dikenalkan pada sang anak serta bagaimana cara atau metode mendidik atau mengenalkan anak pada adab-adab tersebut? Sebagaimana yang telah dimaklumi bahwa adab dalam Islam memiliki banyak macamnya, di antaranya insya Allah akan dipaparkan di poin berikut ini;

1. Adab dengan Allah
Adab dengan Allah merupakan adab tertinggi yang harus mendapat perhatian paling pertama, oleh karena itu si anak harus terlebih dahulu dikenalkan pada adab tersebut, karena Dia-lah yang telah menciptakan si anak serta memberikan karunia dan anugerah yang berlimpah kepadanya sehingga dia patut diberitahukan adab dengan sang Penciptanya seperti;

a. Mengetahui agungnya ciptaan Allah.
Alam semesta ini merupakan bukti nyata atas kekuasaan Allah ta’ala serta menunjukkan luasnya rahmat Allah l terhadap makhluk-Nya. Maka seorang pendidik hendaknya menjelaskan hal ini dengan mengajak si anak untuk melihat dan merenungi ciptaan Allah yang ada di sekitarnya seperti langit yang ditinggikan tanpa tiang, bumi yang dihamparkan, pohon-pohon yang rindang menjulang dan buah-buahan yang segar dan lain-lain, semua itu merupakan di antara ciptaan Allah. Sehingga sang anak tahu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang Maha Agung.

b. Menjaga hak-hak Allah.
Ketika anak telah mengerti tentang karunia yang diberikan kepadanya dan menghayati ciptaan-ciptaan Allah yang begitu menakjubkan, maka seorang pendidik harus menanamkan pada diri anak bahwa kita harus bersyukur atau berterima kasih kepada Allah atas limpahan nikmat tersebut tentunya dengan menjaga hak-hak Allah seperti beribadah kepada-Nya semata dan tidak berbuat syirik kepada-Nya seperti yang digambarkan dalam kisah Luqman al Hakim bahwa ia berkata kepada anaknya “Wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah karena syirik itu adalah kezholiman yang besar.”(QS. Luqman: 13)

c. Mengenalkan anak pada nama-nama dan sifat Allah.
Di antara adab dengan Allah adalah mengenalkan pada si anak sebagian nama atau sifat Allah yang Maha Indah lagi Mulia dengan menjelaskan kandungannya secara singkat, misalnya kita katakan ‘Nak, Allah itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi atau terluput dari pendengan dan pengetahuan-Nya sampai yang terbetik dalam pikiran kita pun, Allah mengetahuinya,’ atau ‘Allah itu Maha Melihat segala sesuatu tak ada satupun yang terluput dari penglihatan-Nya sampai semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap gulita, Allah melihatnya.’ SubhanAllah !

2. Adab dengan orang tua
Orang tua adalah manusia yang amat berjasa bagi si anak. Terutama sang ibu yang dengan susah payah mengandungnya hingga ia dilahirkan ke dunia sampai-sampai nyawa menjadi taruhan demi kelahiran sang anak. Begitu pula perjuangan seorang bapak yang mengerahkan jerih payahnya untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Maka sudah sepatutnya anak diajarkan tentang adab-adab yang berkaitan dengan kedua orang tuanya seperti;

a. Berbuat baik kepada keduanya serta tidak meninggikan suara dihadapannya
Orang tua adalah manusia yang paling berhak kita berbuat baik kepadanya. Disamping besarnya pengorbanan keduanya, Allah pun telah menggandengkan perintah berbuat baik kepada orang tua dengan perintah beribadah kepada-Nya yang menunjukkan besarnya perkara ini.

Allah berfirman:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”. (QS. al-Isra’: 23)

b. Mendo’akan keduanya
Do’a yang dipanjatkan oleh anak untuk kedua orang tua merupakan bukti keluhuran adab dan akhlak yang dimilikinya. Allah ta’ala dalam al-Quran telah mengajarkan bentuk do’a kepada kita untuk orang tua.
“Dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. al-Isra’: 24)

3. Adab dalam bertetangga
Tetangga dalam Islam memiliki hak yang agung sehingga Rasulullah pernah bersabda “Senantiasa Jibril alaihissalam mewasiatkan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai aku mengira dia akan mendapat warisan”. Seorang anak dalam kehidupan sehari-harinya tidak terlepas dari bermain atau bergaul dengan tetangganya sehingga perlu dikenalkan pada adab-adab bertetangga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Di antara terhadap tetangga adalah:

a. Memerintahkan anak untuk berbuat baik kepada tetangga dan tidak menyakitinya
Sikap ini merupakan akhlak mulia yang harus ditanamkan pada diri anak, sehingga ia tidak berlaku buruk terhadap tetangganya. Saking besarnya hak tetangga tersebut sampai-sampai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengatakan bahwa orang yang menyakiti mereka salah satu indikasi kurangnya iman. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda “Tidaklah sempurna iman sesorang di antara kalian dimana tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Muslim)

b. Menyuruh anak untuk memberikan sedikit kuah atau yang semisalnya
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita bagaimana seorang Muslim memuliakan tetangganya, di antaranya dengan memberikan sedikit kuah kepada mereka dan hal ini menunjukkan perhatian Islam terhadap tetangga. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda “Jika kamu memasak maka perbanyaklah kuahnya dan berikan kepada tetanggamu.” (HR. Muslim)

Inilah di antara adab-adab yang perlu dikenalkan pada anak sehingga pertumbuhannya selalu dihiasi oleh adab-adab Islami yang akan menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tuanya di dunia maupun di akhirat.

Wallahu A’lam.

Hal-Hal Yang Dimakruhkan Dalam Shalat

Hal-Hal Yang Dimakruhkan Dalam Shalat

  1. Bermain-main dengan pakaian atau anggota badan tanpa keperluan
    Dari Mu’aiqib ra: Rasulullah SAW berkata kepada orang yang mengusap debu ketika sujud, “Jika engkau melakukannya maka cukup sekali saja”.
    (Shahiih al Bukhari (Fathul Baari) (III/79 no. 1207), Shahiih Muslim (I/388 no. 546(49), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/223 no.934), Sunan at-Tirmidzi (I/235 no.377), Sunan Ibni Majah (I/327 no. 1026), Sunan an-Nasa-I (III/7))
  2. Menguap
    Dari Abu Harairah ra, Nabi SAW bersabda: “Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Jika salah seorang dari kalian menguap, maka tahanlah sebisa mungkin”.
    (Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no 3013), Sunan at-Tirmidzi (I/230 no. 368), Shahiih Ibni Khuzaimah (II/61 no. 920))
  3. Mengangkat pandangan ke langit
    Dari Abu Harirah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah orang-orsng berhenti mengangkat pandangan mereka ke langit ketika berdoa dalam shalat atau mata mereka akan tersambar”.
    Mukhtasar Shahiih Muslim (no. 343), Shahiih Muslim (I/321 no. 429), Sunan an-Nasa-I (III/39))
  4. Menoleh tanpa keperluan
    Dari Aisyah ra, dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang menoleh dalam shalat. Lalu beliau bersabda: “Ia merupakan sebuah curian yang dilakukan syaitan terhadap shalat seorang hamba”.
    (Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 7047), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari)(II/234 no. 751), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)(III/178 no. 897), Sunan an-Nasa-I (II/8)).
  5. Shalat ketika hidangan sudah disajikan atau menahan buang air besar dan kecil
    Dari Aisyah RA, DIA BERKATA “Aku mendengar Nabi SAW bersabda: “Tidak (sempurna) shalat ketika hidangan sudah disajikan, dan tidak (sempurna) pula shalat orang menahan buang air besar atau kecil”.
    (Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 7509), Sahahiih Muslim (I/393 no. 560), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)(I/160 no. 89)).