Bersih

Ketika pertama kali mendengar Gerakan Mukena Bersih beberapa tahun lalu, yang langsung terbersit adalah setumpukan mukena yang kering, putih dan wangi yang berada di musholla atau masjid. Harapan akan setumpuk mukena bersih ini menghapus gambaran konvesional akan mukena yang basah, berbau apek, bercak-bercak bekas bedak gincu yang biasa kita temui di musholla. Seperti halnya keinginan kita mendapatkan fasilitas toilet umum yang bersih, bagi muslimah mendapatkan mukena bersih di musholla bak mimpi yang menjadi kenyataan.

Perilaku bersih bukanlah sebuah perilaku yang otomatis bisa didapatkan oleh manusia. Perilaku bersih adalah sebuah proses belajar dan proses mengalami. Diantara banyak perilaku utama yang diajarkan dan dicontohkan kepada anak-anak kita, perilaku bersih adalah salah satunya. Mengapa merupakan proses belajar? Ya, karena perilaku bersih diawali dengan penanaman nilai akan pentingnya kebersihan. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Luar biasa Islam menempatkan kebersihan dalam kehidupan. Belum lagi ditambah nilai-nilai budaya, adat dan keluarga yang juga mengutamakan kebersihan. Nilai (values) yang ditanamkan sejak dini biasanya lebih bisa mempengaruhi sikap kita terhadap kebersihan. Sikap yang positif terhadap kebersihan akan mengantar kita pada perilaku bersih yang sesungguhnya.

Kebersihan sebagian dari iman bukanlah semata tugas guru agama (ustadz dan ustadzah) dan guru sekolah saja untuk menanamkannya pada anak-anak kita. Utamanya itu adalah tugas orangtua dan orang-orang dewasa yang berada di kehidupan anak. Sayangnya, penanaman nilai kebersihan sangat tidak cukup dengan hanya menceramahi anak saja. Anak perlu paham apa yang dimaksud dengan ‘bersih’. Cara yang cukup manjur mengajarkan ‘bersih dan kebersihan’ adalah dengan memberi contoh dan menjelaskannya pada anak. Seribu kali kita katakan bahwa kebersihan sebagian dari iman akan tak berarti apabila tiap hari anggota keluarga disuguhi toilet yang kotor, rumah yang nampak bak gudang, sajadah yang tak pernah dibersihkan dan mukena yang belum tentu seminggu sekali dicuci. Anak belajar dari melihat dan meniru. Kita marah dan mengeluh akan berantakannya kamar anak, namun kita tak sempat mencontohkan bagaimana membuat kamar menjadi rapi adalah hal yang percuma. Intinya adalah belajar tentang ‘bersih’, bersikap positif terhadap kebersihan dan berperilaku bersih merupakan sebuah proses belajar yang panjang dan tak mudah bagi anak dan juga bagi kita orang dewasa. Jangan terlalu berharap anak belajar perilaku kebersihan dari luar rumah, mulailah dari rumah, dari kita, dari seisi rumah.

Mari kita lihat pentingnya perilaku bersih dari sisi psikologi. Saya akan menggunakan penjelasan-penjelasan yang mudah. Dari banyak ahli kita belajar bahwa kebersihan fisik mempengaruhi sikap moral. Seorang ahli melakukan sebuah eksperimen dan menemukan bahwa perasaan jijik (disgust) memiliki pengaruh terhadap ketidakinginan untuk melakukan hal-hal yang dianggap ‘kotor’. Contoh mudahnya begini: kalau kita merasa bahwa korupsi adalah perilaku yang salah, kotor dan menjijikkan maka kemungkinan kita akan melakukan perilaku korupsi akan menjadi rendah. Ada lagi riset lain yang menghasilkan kesimpulan bahwa ada hubungan antara memiliki konsep tentang kebersihan (cleanliness) dan aktifitas membersihkan diri secara fisik dengan keputusan moral yang dibuat. Di psikologi ada istilah yang sangat terkenal yaitu ‘toilet training’ yang merupakan proses anak belajar melakukan buang air kecil dan buang air besar dengan benar. Anak dibawah satu tahun masih perlu kita bantu secara penuh ketika mereka BAB atau BAK. Masa sekarang kita dibantu dengan ‘diapers’ atau popok sekali pakai agar anak merasa nyaman dan kita terbebas dari kerepotan membersihkan kotoran. Menggunakan popok sekali buang secara berkepanjangan akan memperpanjang ketergantungan anak pada kita. Anak menjadi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ketrampilan baru: mengatakan bahwa ia ingin BAB, memilih tempat yang tepat untuk BAB dan membersihkan diri setelah BAB. Tiga hal itulah dasar dari ‘toilet training’ yang menjadi tugas kita mengajarkan dan memberi kesempatan pada anak untuk menguasai ketrampilan BAB dan BAK. Salah satu tujuannya adalah mengajarkan nilai kebersihan pada anak. Seiring dengan pertambahan usia, maka pelajaran tentang kebersihan akan mengikuti kemampuan anak dalam menyerapnya. Mulai sejak dini, lakukan terus menerus, beri contoh yang nyata.

Ada contoh yang lebih ekstrim. Perasaan bahwa diri kita kotor secara mental (misalnya merasa berdosa dan bersalah karena melakukan sesuatu yang dilarang agama atau adat) sampai titik tertentu bisa mendatangkan gangguan perilaku. Perasaan itu terus mendera dan jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat bisa saja mucul dalam betuk perilaku yang berulangkali dilakukan secara berlebiha yang bertujuan untuk ‘membersihkan’ dirinya. Misalnya dia akan terus menerus cuci tangan atau mandi puluhan kali dalam sehari. Dia menjadi terobsesi dengan perilaku ‘membersihkan’ diri.

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa Islam membekali kita dengan nilai, pengetahuan dan perilaku kebersihan yang nyata. Salah satunya adalah berwudlu setiap kali hendak sholat. Kita diwajibkan membersihkan diri minimal 5 kali sehari sebelum melakukan sholat wajib. Contoh yang indah untuk sebuah perilaku kebersihan. Ceritakan pada anak-anak kita apa makna berwudu, nilai apa yang terkandung didalamnya.Janganlah sekedar kita meminta mereka melakukan ritual wudlu tanpa pemahaman yang cukup. Gerakan Mukena Bersih juga merupakan contoh indah bagi kita semua.

Penulis : Retno Dewanti Purba, Psikolog

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *