Kesalahan Dalam Wudhu yang Tak Disadari, Ternyata Bisa Membuat Shalat Batal

Ibadah ini merupakan syarat wajib yang harus dilakukan sebelum melaksanakan salat. Jika tidak benar wudhunya, maka akan berpengaruh terhadap kesempurnaan salat.

Namun, sebagai umat Islam masih sering melakukan kesalahan-kesalahan ketika berwudhu. Padahal dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa aktivitas bersuci ini menjadi salah satu penentu apakah salat seseorang diterima atau tidak.

Terkadang seseorang merasa wudhunya sudah benar, namun ternyata masih ada kesalahan yang harus diperbaiki. Lantas bagaimana jadinya salat seseorang jika pada saat berwudhu saja sudah melakukan kesalahan?

Berikut ini beberapa kesalahan yang sering dilakukan orang ketika berwudhu.

Beberapa diantaranya dapat membuat shalat tidak sah karena wudhu dianggap batal.

Tidak membaca Bismillah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sempurna wudhu’ sesorang yang tidak membaca basmallah” (HR. Ahmad)

Para ulama berbeda pendapat apakah basmalah atau mengucapkan “bismillah” hukumnya wajib ataukah sunnah.

Sebagian ulama mewajibkan dengan dalil hadits: “tidak ada shalat bagi yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala” (HR. Ahmad).

Namun jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah karena beberapa hal:

  1. Membaca basmalah tidak disebutkan bersamaan dengan hal-hal wajib lainnya dalam surat Al Maidah ayat 6
  2. Keumuman hadits-hadits yang menjelaskan mengenai cara wudhu Nabi, tidak menyebutkan mengucapkan basmalah (lihat Asy Syarhul Mumthi’, 1/159).
  3. Makna “tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala” adalah penafian kesempurnaan wudhu (lihat Asy Syarhul Mumthi’, 1/158 – 159).

Namun demikian, baik beranggapan hukumnya sunnah ataupun wajib, meninggalkannya dengan sengaja adalah sebuah kesalahan.

Tidak mencuci lengan hingga siku

Seringkali orang meremehkan hal ini. Berwudhu sekedarnya saja yang penting tangan basah sehingga tidak diperhatikan apakah airnya sudah mencapai siku atau belum.

Atau semisal kalau lagi memakai baju lengan panjang dan malas untuk menggulung, sehingga menggulungnya pun tidak melebihi siku jadi basuhan air wudhu juga tidak menyentuh sikunya.

Padahal Allah Ta’ala berfirman mengenai rukun wudhu (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku..” (QS. Al Maidah: 6).

Tidak mencuci kaki hingga mata kaki

Kasusnya hampir sama dengan lengan siku, saat sedang berwudhu banyak orang meremehkan dan lalai mencuci kaki hingga sampai ke mata kaki.

Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Shahihnya. Dari Muhammad bin Ziyad, dia berkata: “Aku mendengar Abu Hurairah—saat itu beliau melewati kami, dan orang-orang sedang berwudhu:

“Sempurnakanlah wudhu kalian, sesungguhnya Abul Qosim (Rasulullah) bersabda: “Celakalah tumit-tumit (yang tidak terbasuh air ketika berwudhu) dari api neraka.”

Dan dari Khalid bin Mi’dan dari sebagian istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya Rasulullah melihat seorang laki-laki yang shalat sedangkan di punggung kakinya terdapat bagian mengkilap karena tidak terbasuh oleh air wudhu seukuran uang dirham (uang logam), maka Nabi menyuruhnya untuk mengulang wudhunya.” (HR. Ahmad)

Kurang sempurna membasuh wajah

Untuk masalah kali ini sering terjadi dikarenakan kurangnya pemahaman akan batasan bagian wajah yang harus dibasuh sebagaimana ditentukan dalam syariat Islam.

Imam Al Qurthubi dalam Al Jami’ li Ahkam Al Quran berkata, “Al wajhu menurut bahasa diambil dari kata ‘al muwajahah’ (berhadap-hadapan), yaitu anggota badan yang meliputi beberapa anggota, memiliki batasan panjang dan lebar; Batasan panjangnya adalah dari ujung kening hingga ujung dagu, sedangkan batasan lebarnya adalah dari telinga ke telinga.”

Sementara itu, ahli tafsir yang lain, Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Batasan wajah menurut para ahli fiqih adalah, ‘Panjang: antara tempat tumbuhnya rambut, kepala gundul tidak dianggap, hingga ujung dagu, sedangkan lebar antara kedua telinga.”

Maka ketika berwudhu membasuh wajah, seharusnya air diusap sampai menyentuh batas rambut di atas kening, lalu sampai ke samping hingga tepi daun telinga, dan ke bawah sampai ujung dagu. Yang memiliki jenggot maka jenggotnya juga turut dibasuh sampai ke sela-sela.

Sedangkan untuk bagian bawah dagu, yakni yang berada di bawah tulang rahang maka hal tersebut bukan termasuk wajah.

Boros dalam penggunaan air.

Sifat boros dalam menggunakan air adalah kesalahan yang juga sering dilakukan.  Dan fenomena ini juga sudah disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak dulu.

Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam kitab Sunannya, dari hadits ‘Abdullah bin Mughaffal, dia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَيَكُوْنُ فِي هَذِهِ اْلأُمَّةِ، قَوْمٌ يَعْتَدُوْنَ فِي الطَّهُوْرِ وَالدُّعَاءِ.

“Akan ada di umat ini suatu kaum yang melampaui batas (berlebihan) dalam bersuci dan berdo’a.” (HR. Abu Dawud no. 96)

Padahal ini adalah terlarang berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-An’am: 141 dan Al-A’raf: 31).

Rasulullah pun bersabda tentang hal ini: “Janganlah kalian boros dalam (penggunaan) air”, maka beliau (Sa’ad) berkata, “Apakah dalam (masalah) air ada pemborosan?”, beliau bersabda, “Iya, walaupun kamu berada di sungai yang banyak airnya” (HR. Ahmad)

Anas bin Malik radhiallahu’anhumenyatakan, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya berwudhu dengan 1 mud air dan mandi dengan 1 sha’ sampai 5 mud air” (HR. Bukhari 201, Muslim 326)

Sedangkan konversi 1 mud para ulama berbeda pendapat antara 0,6 sampai 1 liter. Sungguh hemat sekali bukan? Boleh saja berwudhu dengan air keran dan lebih dari 1 mud selama tidak berlebih-lebihan dan tetap berusaha untuk menghemat.

Imam Ahmad berkata, “Termasuk ketidakfaqihan seseorang adalah, apabila menyukai (banyak) air (dalam bersuci).”

Lupa mengusap sela-sela jari

Ketika seseorang berwudhu dengan membasuh kedua tangannya, maka bagian jari satu dengan lainnya terkadang tidak ikut terbasahi.

Padahal, bisa jadi pada bagian itu terdapat kotoran atau najis yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan menyelanya. Oleh karena itulah disunahkan untuk menyela jari kedua tangan dan kaki saat berwudhu.

Berdasarkan sabda Rasulullah, “Jika kalian berwudhu maka renggangkanlah jari kedua tangan dan kaki (agar terbasahi air).” (HR. Ibnu Majah).

Menurut jumhur ulama, menyela jari-jari dalam wudhu adalah disyari’atkan, baik jari kedua tangan maupun jari kedua kaki. Demikian ini adalah pendapat  mazhab Hanafi, Syafi’i, Hanbali dan juga merupakan pendapat Ibnu Rusyd dari kalangan mazhab Maliki. [Muqaddimat Ibnu Rusyd, 1/85]

Berdasarkan sabda Rasulullah ketika seseorang minta untuk diajarkan cara berwudhu, beliau bersabda, “Sempurnakanlah wudhu, renggangkanlah jari-jari, berlebihlah dalam berkumur-kumur dan istinsyaq, kecuali engkau sedang berpuasa.” (HR. Abu Dawud)

Maryam, satu-satunya wanita yang di sebut dalam Al Quran

Di dalam Alquran, biasanya disebutkan nama Nabi serta orang saleh dan kebanyakan adalah berjenis kelamin laki. Tetapi untuk yang satu nama orang ini dari kalangan perempuan.

Allah SWT, tidak menyebutkan nama perempuan lain selain dirinya, bahkan nama perempuan ini disebutkan sebanyak 30 kali kesempatan dalam Al Quran.

Nah satu-satunya wanita yang disebut di dalam Al Quran yaitu Maryam binti Imran ra, dan saking mulianya perempuan ini, Allah SWT memutihkan kehormatannya dalam suatu surah, yaitu Surah Maryam.

Allah SWT berfirman :
“(ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya. Maka Kami tiupkan kedalam rahimnya sebagain dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabb-Nya dan kitab-kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat”. (QS. At-Tahrim: 12).

“Allah SWT tidak menyebutkan nama seorang pun perempuan dalam kitab-Nya selain Maryam binti Imran ra.

Allah menyebutkan namanya dalam 30 kali kesempatan, karena mengandung hikmah sebagaimana yang disebutkan para ulama. Bahkan para raja dan orang-orang terpandang tidak pernah menyebutkan nama istrinya di depan rakyat, dan tidak pula mem-populerkan nama mereka. Tetapi mereka menyebut nama istrinya dengan ungkapan, pasangan, ibu, keluarga kerajaan dan lain seterusnya.

“… Namun ketika mereka bersikat terhadap budak, mereka tidak merahasiakannya dan tidak menyembunyikan namanya. Ketika orang Nasrani mengatakan bahwa Maryam istri Tuhan dan Isa Anak Tuhan, Maka Allah SWT terang-terangan menyebut nama Maryam. Dan tidak Allah sembunyikan dengan budak Allah atah Hamba Allah, yang merupakan sifat asli Maryam. Dan Allah SWT jadikan hal ini sebagai kebiasaan masyarakat Arab dalam memyebutkan budaknya.” (Tafsir Al-Qurthubi).

Az-zarkasi menambahkan, “Sesungguhnya Isa terlahir tanpa bapak. Ini keyakinan yang wajib kita miliki. Ketika keterangan nasabnya ke ibunya disebutkan berulang-ulang, maka akan muncul perasaan dalam hati, berupa keyakinan bahwa beliau tidak memiliki bapak. Dan memutihlah nama baik ibunya sang wanita suci dari perkataan kotor orang Yahudi- Semoga Allah melaknat mereka”. (Al-Burhan fi Ulum Al-Quran)

Inilah alasan kenapa hanya nama maryam yang disebutkan dalam Al Quran. Selain ingin meninggikan derajat wanita, Allah juga menegaskan bahwa Maryam bukanlah istri Tuhan. Melainkan Perempuan Suci yang selalu menjaga kehormatannya.

Rahasia Allah Dibalik Penetapan Waktu-waktu Sholat Wajib

Banyak umat yang mengkritisi atau mempertanyakan sebagai bahan pengentahuan, waktu shalat wajib. Di antaranya, kenapa shalat zhuhur ditempatkan pada siang hari dengan jumlah 4 rakaat, begitupun shalat-shalat yang lainnya?

Bagi sebagian umat Islam pertanyaan seperti ini biasa dilontarkan oleh orang-orang yang kritis pada sesuatu yang realitanya dan tidak dapat diambil kesimpulan sendiri.

Dengan penetapan waktu yang begitu teratur sampai-sampai shalat maghrib yang di tempatkan seusai umat melakukan urusan pekerjaan dan dengan jumlah 3 rakaat. Penyesuaian ini yang menjadi kesyukuran bagi umat islam hari ini.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman,” (QS, An-Nisa : 103)

Penentuan waktu-waktu shalat farhu ini berdasarkan kepada hadist-hadist shahih, di antaranya riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata:

Bahwa Nabi bersabda:
Jibril telah mengimami aku di Baitullah dua kali. Yang pertama dia melaksanakan shalat zhuhur bersamaku ketika matahari tergelincir.

Bayangan saat itu sepanjang tali sandal.Dia shalat ashar bersamaku ketika panjang bayangan sama dengan bendanya. Dia shalat ashar bersamaku ketika panjang bayangan sama bendanya. Dia shalat maghrib bersamaku ketika matahari terbenam dan berbukanya orang yang berpuasa.

Dia shalat isya bersamaku ketika mega merah telah menghilang. Dia shalat fajar (shalat shubuh) bersamaku ketika fajar merekah dan terlarangnya makan atas orang yang berpuasa.

Yang kedua, dia shalat zhuhur bersamaku ketika panjang bayangan sama dengan bendanya. Dia shalat ashar ketika panjang bayangan dua kali lipat dari bendanya. Shalat maghrib seperti waktu pertama.

Kemudian shalat isya (yang diakhirkan) sampai sepertiga malam pertama. Lalu shalat shubuh ketika munculnya warna kekuning-kuningan di Ufuk Timur.

Kemudian jibril menoleh kepadaku seraya berkata: Ya Muhammad, Inilah waktu shalat para Nabi sebelum kamu. Waktu shalatmu di antara kedua waktu itu,” (HR. At-Tirmidzi).

Sungguh Maha Bijaksananya Allah SWT dalam menempatkan waktu-waktu shalat sesuai dengan kemapuan umat Nabi Muhammad SAW.