Manfaat gerakan shalat untuk kesehatan tubuh (Bagian 1)

Shalat bagi kita sebagai orang Islam tidaklah asing. Sebab shalat bagi kita diwajibkan sehari semalam untuk melakukannya sebanyak 5 kali yaitu shalat Isya, shubuh, luhur, ashar dan maghrib. Hal itu juga merupakan sebuah akronim dari kata ISLAM. Perintah shalat merupakan oleh-oleh Nabi Muhammad setelah melaksanakan perjalanan Isra Miraj. Pada awalnya umat Nabi Muhammad diperintahkan untuk melaksanakan shalat sehari semalam 50 kali. Setelah Nabi Muhammad meminta keringanan, akhirnya diputuskan menjadi 5 kali sehari semalam. Kita sebagai hamba Allah sudah semestinya perintah shalat itu tidaklah menjadi beban untuk kita. Namun hal itu seharusnya menjadi kebutuhan sebagai eksistensi hamba dalam bersyukur kepadaNya. Shalat juga merupakan media komunikasi hamba dengan sang pencipa.

Pengertian/Definisi/Ta’rif Shalat

Shalat secara bahasa/lughoh/etimologi adalah doa sedangkan secara istilah/syari’ah/ terminologi adalah suatu pekerjaan yang dimulai dengan takbir (takbiratul ihram) diakhiri dengan salam.

Menurut Hasbi Asy-syidiqi : secara hakiki shalat ialah berhadapan hati, jiwa dan raga kepada Allah, secara yang mendatangkan rasa takut kepadaNya atau mendhahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan perbuatan.

Menurut Imam Basyahri Assayuthi : shalat ialah salah satu sarana komunikasi antara hamba dengan Tuhannya sebagai bentuk ibadah yang di dalamnya merupakan amalan yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, serta sesuai dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan syara.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa shalat adalah suatu pekerjaan yang diperintahkan oleh Allah terhadap hambanya yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Syarat Shalat

  1. Beragama islam.
  2. Sudah baligh dan berakal.
  3. Suci dari hadats baik hadats kecil maupun besar.
  4. Suci seluruh anggota badan pakaian dan tempat.
  5. Menutup aurat.
  6. Masuk waktu yang telah ditentukan.
  7. Menghadap kiblat.
  8. Mengetahui mana rukun wajib dan sunah.

Rukun Shalat

  1. Rukun shalat adalah setiap bagian shalat yang apabila ketinggalan salah satunya dengan sengaja atau karena lupa maka shalatnya batal (tidak syah).
  2. Berdiri bagi yang mampu, bila tidak mampu berdiri maka dengan duduk, bila tidak mampu duduk maka dengan berbaring secara miring atau telentang.
  3. Takbiratul Ihram ketika memulai shalat.
  4. Membaca Al Fatihah.
  5. I’tidal.
  6. Bangun dari sujud.
  7. Duduk di antara dua sujud.
  8. Tuma’ninah dalam setiap rukun
  9. Tasyahud Akhir.
  10. Duduk Tasyahud Akhir.
  11. Shalawat atas Nabi pada Tasyahud Akhir.
  12. Tertib pada setiap rukun.

Yang Membatalkan Shalat

  1. Terkena Najis yang tidak dimaafkan.
  2. Berkata-kata dengan sengaja diluar bacaan shalat.
  3. Terbuka auratnya.
  4. Mengubah niat misalnya ingin memutuskan shalat (niat berhenti shalat) atau menggantungkan niat shalat contoh kalau ada orang datang barangkali mau mengambil sandal saya maka nanti saya akan berhenti.
  5. Makan atau /minum walau sedikit.
  6. Bergerak tiga kali berturut-turut, di luar gerakan shalat.
  7. Membelakangi kiblat.
  8. Menambah rukun yang berupa perbuatan, seperti menambah rukuk, sujud atau lainnya dengan sengaja.
  9. Tertawa terbahak-bahak
  10. Mendahului Imam dua rukun.
  11. Murtad atau keluar dari Islam.

Dalil Shalat

  1. Dalil yang mewajibkan shalat banyak sekali, baik dalam Alquran maupun dalam Hadits nabi Muhammad SAW.
  2. Dalil Ayat-ayat Alquran yang mewajibkan shalat antara lain yang artinya berbunyi :

    “Dan dirikanlah Shalat, dan keluarkanlah Zakat, dan ruku’lah bersama-sama orang yang ruku” (QS.Al Baqarah : 43)

    “Kerjakanlah shalat, sesungguhnya shalat mencegah perbuatan yang jahat dan mungkar” (QS. Al-Ankabut : 45)

  1. Perintah shalat ini hendaklah ditanamkan dalam hati dan jiwa kita sebagai orang Islam dan anak-anak kita dengan cara pendidikan yang cermat, dan dilakukan sejak kecil sebagaimana tersebut dalam hadits Nabi Muhammad SAW :

“Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat di waktu usia mereka meningkat tujuh tahun, dan pukulah (kalau mereka enggan melasanakan shalat) di waktu usia mereka meningkat sepuluh tahun”. (HR.Abu Dawud).

Perlu kami sampaikan bahwa gerakan–gerakan shalat adalah gerakan paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sisi medis, shalat adalah gudangnya obat dari berbagai macam penyakit. Sehingga pantas kalau ada orang mengatakan bahwa shalat itu sebagai media olah raga yang bersifat jasmani dan rohani. Pendapat ini bisa diterima karena semua gerakan shalat itu mengandung unsur kesehatan. Dan jika seseorang mengalami gangguan penyakit atau kondisinya kurang sehat, maka tidak dapat melakukan shalat dengan baik dan benar. Dengan demikian apabila shalat itu dilakukan dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan yang telah digariskan, maka akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan secara menyeluruh baik pisik maupun psikis. Hal ini telah dilakukan penelitian oleh dokter A. Saboe. Dia adalah seorang dokter muslim yang taat yang ingin membuktikan kebenaran ajaran Islam, khususnya masalah gerakan shalat dari awal hingga akhir. Dalam bahasa orang awam pati-patiya di perintah oleh Allah SWT, shalat pasti ada manfaatnya.

Oleh: Hadi Mulyanto, A.Ma., S.Pd.I., M.Pd.I
www.dakwatuna.com

Meraih Shalat yang Khusyu

Bagaimana kita bisa meraih shalat yang khusyu? Terlebih dengan segala hingar bingar kesibukan kita yang tidak jarang melalaikan kita dari shalat. Shalat yang dikerjakan sebatas penguguran kewajiban semata dan tidak meninggalkan bekas yang mendalam. Tidakkah mendambakan shalat yang penuh dengan perasaan sangat dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga kita bisa merasakan bahwa segala amal ibadah kita, dzikir dan doa yang digulirkan, hidup kita dan apapun yang kita lakukan lurus diniatkan hanya demi Allah dan berharap semua itu diterima Allah sebagai penghambaan kita kepadaNya.

  1. Niatkan di dalam hati
    Dalam melakukan ibadah shalat, seharusnya bukan hanya anggota tubuh kita yang mengikuti gerakan demi gerakan shalat. Ini yang seringkali terjadi sehingga seseorang tidak meraih shalat yang khusyuk. Namun, perlu untuk kita mengikutkan hati kita dalam setiap shalat, dalam setiap gerakan dan bacaan dalam shalat, menjadikan hati kita ikut melaksanakan shalat bersama seluruh anggota tubuh kita. Jauhkan tujuan sholat kita selain untuk mendapatkan ridho dari Alloh SWT seperti untuk pamer / riya, ingin dilihat atasan, ingin dilihat pacar, ingin dianggap orang sebagai orang alim, sekedar ikut-ikutan orang lain, dan lain sebagainya.
  2. Memahami Arti Shalat
    Dalam setiap gerakan dalam shalat itu tidak lepas dari bacaannya, mulai dari lafadz takbiratul ihram hingga mengucapkan salam setelah tahiyyatul akhir di penuhi dengan bacaan-bacaan suci yang berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an hingga do’a – do’a dalam shalat itu sendiri. Salah satu penyebab seseorang menjadi sulit mendapatkan shalat yang khusyuk adalah tidak tahu apa arti dan makna lafadz yang di bacanya dalam shalat yang akhirnya membuat shalatnya berjalan begitu saja tanpa bisa dia hayati.Pelajari dan memahami satu per satu bacaan shalat kita. Dan mencoba untuk terus menghayatinya dalam setiap shalat yang kita lakukan.Pelajarilah arti dan makna di balik ucapan-ucapan kita saat sedang sholat, lalu pahami dan hapalkan. Munculkan arti dan makna bacaan sholat kita saat kita sedang sholat.
  3. Fokus
    Pandangan saat melakukan shalat itu ditujukan di tempat kita sujud, tidak melirik apalagi menengok kiri dan kanan agar fokus dalam shalat kita. Kosongkan  pikiran dari berbagai hal duniawi, serahkan diri anda sepenuhnya hanya kepada Allah untuk menjalankan kewajiban yang diperintahkan kepada kita.Apabila merasan ada sesuatu yang mengganggu kefokusan dalam sholat maka berlindunglah kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, sebagaimana hal tersebut diperintahkan oleh Rasulullah. Karena tidak diragukan lagi bahwa setan akan terus berusaha merusak semua ibadah, terutama sholat yang merupakan ibadah paling afdhol setelah dua kalimat syahadat. Setan datang membisikkan kepada orang yang sedang sholat, “Ingatlah ini dan ingatlah itu”. Setan pun berusaha menggoda orang yang sedang sholat agar mengkhayalkan perkara-perkara yang tidak ada gunanya dan/atau perasaan was-was, yang terkadang akan hilang setelah shalat selesai.
  4. Menyadari Bahwa Kita Sedang Menghadap Allah
    Kondisikan pikiran dan perasaan kita di mana kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang luar biasa, yang melebihi orang-orang yang kita segani, yang tiada bandingannya dengan apapun.
  5. Menganggap Sholat Yang Sedang Dilakukan adalah Sholat Terakhir
    Tiada yang mengatahui secara pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang termasuk hari kematian. Anggap saja kita akan meninggal dunia saat atau segera setelah sholat berakhir, maka kita akan menjalankan shalat dengan sebaik-baiknyas ebagai cara terakhir untuk bertobat dan sebagai bekal menuju akhirat.
  6. Memperhatikan Kondisi Tubuh Sebelum Sholat
    Pastikan bahwa kita sudah merasa nyaman dan siap untuk melaksanakan ibadah sholat kita dengan baik.
  7. Memperhatikan Kondisi Lingkungan Sebelum Sholat
    Usahakan cari tempat sholat yang baik dari aspek kebersihan, kenyamanan, kebisingan, gangguan orang lain, gangguan anak-anak, keamanan dan lain-lain.
  8. Sholat Tepat Waktu dan Tidak Terburu-Buru
    Agar kita bisa sholat dengan khusyuk kita harus solat pada waktu yang paling utama, yaitu sholat tepat waktu di awal waktunya. Untuk laki-laki sholat berjamaah di masjid atau mushola setelah panggilan adzan dan komat, sedangkan untuk yang perempuan boleh dilaksanakan di rumah. Sholatlah dengan santai dengan menikmati setiap detiknya menghadap langsung kepada sang khalik walaupun sebenarnya anda sedang diburu waktu.
  9. Berusaha Untuk Selalu Memperbaiki Sholat Kita
    Muslim yang baik akan terpacu terus-menerus melakukan perbaikan ibadah maupun hal-hal yang lain untuk menyempurnakan dirinya sesuai dengan Al-Qur’an dan tuntunan hadist Nabi Muhammad SAW. Amatlah rugi apabila kita melakukan ibadah belum sesuai dengan kaidah yang ada serta tidak ada keinginan sedikit pun untuk belajar memperbaiki diri.

Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat dan insya Allah kita akan selalu mendapatkan shalat yang khusyuk. Aamiin.

Jangan meremehkan berbuat baik

Jangan meremehkan berbuat baik sekecil apa pun walau hanya dengan senyum manis tatkala bertemu, begitu pula walau hanya membantu urusan saudara kita yang ringan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim,

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan penggalan hadits di atas mengatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pada Jabir bin Sulaim agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Setiap kebaikan hendaklah dilakukan baik itu ucapan maupun perbuatan. Kebaikan apa pun jangan diremehkan. Kebaikan itu adalah bagian dari berbuat ihsan. Allah mencintai orang-orang muhsin (yang berbuat baik).”

Jika engkau menolong seseorang untuk menaikkan barang-barangnya ke kendaraannya, itu adalah suatu kebaikan. Jika engkau membantu dalam perkara yang ia butuh, maka itu termasuk kebaikan. Bila engkau memberi pena pada saudaramu agar ia bisa terbantu dalam menulis, maka itu adalah suatu kebaikan. Meski pula engkau hanya meminjamkan, maka itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi jangan remehkan kebaikan sedikit pun, sungguh Allah menyukai orang yang berbuat baik.

Ada suatu kaedah yang bisa mengingatkan seseorang untuk terus berbuat baik pada orang lain, yaitu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Siapa yang menolong saudaranya dalam kebutuhannya, maka Allah pun akan menolongnya dalam kebutuhannya” (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580, dari Ibnu ‘Umar).

Cobalah renungkan bagaimana jika sampai Allah menolongmu? Apakah suatu urusan jadi sulit ketika Allah langsung yang menolong? Jawabnya tentu saja tidak. Hadits itu maksudnya, jika engkau menolong saudaramu, maka Allah juga akan menolongmu. Suatu urusan yang sulit akan jadi mudah tanpa ragu lagi. Jadi yakinlah bahwa jika engkau menolong saudaramu, maka Allah pasti akan menolongmu pula dalam urusanmu. Karenanya, perbanyaklah kebaikan dan bantulah terus orang lain.

Jangan remehkan satu kebaikan sedikit pun walau itu sepele. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

“Wahai para wanita muslimah! Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing.” (HR. Bukhari no. 2566 dan Muslim no. 1030, dari Abu Hurairah).  Walau itu sesuatu yang sedikit jangan dianggap remeh.

Bentuk kebaikan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Jabir bin Sulaim adalah berbicara dengan saudaramu dalam keadaan wajah yang tersenyum. Seperti itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain. Allah pun menyukai orang yang demikian.

Tidak setiap waktu kita mesti bermurah senyum pada orang lain. Kadang seseorang melakukan sesuatu yang tidak terpuji, maka saat itu tentu saja kita tidak berwajah senyum di hadapannya dalam rangka untuk mengingatkan kesalahannya. Tujuannya, agar orang tersebut lebih baik dan lebih beradab. Ingatlah, li kulli maqom maqool, setiap tempat punya penyikapan yang berbeda.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 294-295).

Mulai saat ini, marilah kita belajar untuk bermurah senyum dan tidak meremehkan kebaikan sedikit pun. Hanya Allah yang memberi taufik.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. – rumaysho.com

Menjaga Kebersihan

Menjaga Kebersihan Menjaga Keimanan. Empat kata ini kelihatan sederhana, menarik karena sudah menjadi kewajiban namun secara moralitas akibatnya menyangkut kehidupan manusia baik secara fisik, mental & spiritual menjadi satu kesatuan secara keseluruhan. Menjaga kebersihan juga dapat menunjukkan tingkat keimanan kita, tingkah laku sehari-hari dan bagaimana kita berinteraksi, berkomunikasi tidak hanya dengan keluarga, sesama manusia & ciptaanNya, dan akhirnya dengan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Wah hubungannya apa ya?

Begini, penulis sewaktu kecil dibesarkan dalam masyarakat yang menganut nilai-nilai untuk menjaga kesehatan sealami mungkin dan kebesihan sejak dini. Sejak usia balita, setiap pagi saya dan termasuk para cucu lainnya berderet dihadapan nenek untuk menjalani ritual minum sesendok kopi hangat jahe dengan alasan kesehatan jasmani. Begitu pula nenek mengajarkan minum jamu atau minuman herbal seperti daun sirih untuk menghilangkan bau badan dan antiseptic alami. Ini berlaku buat cucu laki-laki dan perempuan. Ini hanya sekedar contoh bagaimana kita diajari membersihkan badan fisik kita.

Penulis punya pengalaman waktu menemani putri kesayangan nonton film bareng teman-temannya yang berulang tahun. Waktu makan bersama tidak ada masalah, begitu nonton film di bioskop baru kelihatan teman-temannya sembarangan meletakkan kotak tempat pop corn dan botol plastik sisa minuman, masih ada sisa makanan. Terus terang penulis sempat menegur temannya supaya mengambil dan menempatkan sampah sisa makanan mereka ke tempat sampah. Hanya satu anak yang melakukan, sisanya dua orang anak hanya menatap aneh ke saya dan lanjut keluar ruangan. Batin saya kok anak-anak seumuran SD begini seharusnya sudah diberitahu mengenai kewajiban membuang sampah ditempatnya, makanpun tidak boleh sembarangan & berantakan. Saya jadi berpikir panjang apakah di lingkungan keluarganya orang tuanya tidak mengajarkan hal-hal mendasar mengenai kebersihan, pentingnya moral budaya malu apabila membuang sampah sembarangan. Kalaupun sudah ada pengajaran disekolah, mengapa anak-anak masih cuek dan sembarangan saja buang sampah di tempat umum. Perilaku anak sejak dini sampai dewasa dalam menjaga kebersihan mencerminkan berhasil tidaknya orangtua dalam mengajarkan kebersihan di rumah.

Demikian juga perilaku seseorang menunjukan tingkat derajat kebersihannya, semakin menjaga kebersihan semakin halus budi bahasa karena seseorang tersebut sudah terbiasa menjaga kebersihan pastinya akan menjaga pola berpikirnya. Hati dan pikirannya tidak tenang manakala melihat pandangan didepannya menunjukkan ketidak teraturan, sampah berserakan, atau melihat sesuatu atau perilaku yang tidak pada tempatnya. Seseorang yang terbiasa menjalani pola hidup bersih, memiliki pikiranyang bersih, biasanya tidak hanya tipe orang yang bersimpati terhadap orang lain akan tetapi juga memiliki sifat yang empati, yaitu karakter atau perilaku orang yang dapat menunjukkan atau merasakan perasaan yang sama apabila orang lain mengalaminya peristiwa baik atau buruk.

Menjaga kebersihan tidak harus memiliki barang-barang yang mahal atau mewah, cukup dengan cara & biaya yang sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan perilaku kita. Misalnya pakaian yang kita kenakan sehari-hari dicuci tiap hari, sebaiknya untuk perangkat ibadah kita pun juga harus bersih setidaknya untuk pemakaian di rumah 3-5 hari sudah harus dicuci. Kalau di luar rumah karena sering dipinjam atau dipakai orang sebaiknya setiap hari tergantung frekuensi pemakaian. Sebagai contoh kalau kita bertemu orang lain saja pada acara tertentu seperti pernikahan, sunatan, undangan perayaan perak atau emas perkawinan, reuni dengan teman kuliah, bahkan arisan. Persiapan ritual kita banyak seperti mulai dari mandi, pakai pakaian bersih, kalau perlu pergi ke salon untuk dandan, kadang mengenakan pakaian khusus atau seragam, ini membutuhkan waktu dan biaya ekstra diluar biaya sehari-hari.

Sekarang mari kita melakukan refleksi diri, ini termasuk penulis sendiri sebagai pengingat. Mari kita bandingkan dengan persiapan kita dalam lima kali sehari kebutuhan untuk menghadap kepada Allah, SWT, sang Khalik, yang memiliki kekayaan pada segala yang ada dilangit dan bumi. Yang mengetahui apa saja yang disembunyikan didalam hati setiap manusia ciptaanNya, untuk menyatakan perasaan rindu bertemu denganNya, perasaan lemah dan ketidakberdayaan ketika menghadapNya. Tentu saja kita melakukan ritual mandi, wajib terutama sesudah berhubungan dengan pasangan kita. Bagaimana dengan pakaian kita? Khusus bagi kaum perempuan yang bekerja dikantor dan dirumah, sekali lagi penting untuk diingatkan bukan persoalan harga pakaian tetapi kebersihan yang utama. Bersih, rapi & menarik. Begitu juga dengan mukena yang kita kenakan. Kebayang kan betapa jijiknya bila mau shalat bagian lobang kepala mukena kena dasar bedak coklat tebal atau bahkan lembab, timbul jamur-jamur bintik hitam disekelilingnya. Wih, kita yang mau shalat saja jijik rasanya, apalagi yang mau menilai ibadah kita, malaikatpun pasti menjauh. Lebih lanjut, coba kita perhatikan mukena yang ada di rumah kita dulu, baru kemudian yang ada di kantor, di mall, di masjid, dan tempat umum lainnya.

Bersih & wangi adalah kunci. Apabila perangkat sholat bersih apalagi wangi, hmm kita makin rajin untuk beribadah, bukan? Rajin untuk berdoa, mendoakan orang-orang yang kita sayangi. Penulis punya pengalaman pernah mencuci perangkat sholat mukena & sajadah sewaktu bekerja di kantor dulu. Meskipun bukan mukena sendiri. Hati akan risih, bagaimana doa-doa kita akan dikabulkan kalau soal menghadap saja kita tidak siap dan tidak bersih. Bagaimana mungkin kita bisa berteman dengan seseorang yang mampu berpakaian bermerek & mahal sedangkan peralatan sholatnya tidak diperhatikan kebersihannya. Walaupun kita tidak mengatakan langsung kepada orang tersebut namun batin kita atau orang lain akan memandang penuh keheranan bahkan jijik dengan perasaan geli dan risih. Teman penulis pernah menceritakan neneknya kalau setiap sholat selalu mengenakan baju terbaiknya, selalu berbersih diri dan dandan dan selalu tersenyum dalam memulai membacakan doa-doa shalat. Ikhlas dan rindu akan sang Khalik terpancar dalam rona mata dimukanya. Indah dan mesra sekali.

Perbandingan contoh diatas mengingatkan kita kembali untuk sekali lagi bersih diri, bersih sikap dengan bersih perilaku denga cara membersihkan perangkat sholat kita terutama mukena bagi kaum perempuan. Mukena yang bersih, wangi, tertata dan dilipat rapi, dengan perangkat sholat lain sajadh, tasbih, buku doa, akan membuat kita semakin rajin meningkatkan ketakwaan kita. Mari kita bersihkan mukena kita dan juga ikhlaskanlah dengan sukarela untuk menjaga kebersihan mukena yang dipakai oleh orang lain. Insya allah niat yang baik akan dibalas dengan kebaikan pula. Insya allah suatu hari nanti apabila sudah waktunya kita berpulang dari dunia fana ini kita sudah siap berbersih diri sebelum bertemu denganNya. Amin YRA.

Oleh : Evin Sofia, SH, MM | Pengamat Sosial

Indahnya Kejujuran

Jujur dalam bahasa al-Qur’an paling tidak berarti menyeleraskan antara perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu seorang yang mengaku beriman hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk menyelaraskan antara perkataan dan perbuatannya sehingga terlepas dari ancaman Allah terhadap orang-orang yang tidak berusaha menyesuaikan antara apa yang dikatakan lisannya dengan perbuatan yang dilakukan. Allah Swt. Berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Kejujuran  akan melahirkan kepercayaan yang merupakan pondasi utama untuk mencapai keberhasilan, kebahagian, ketenteraman serta mendatangkan cinta dan rahmat dari Allah. Sedangkan kebohongan sebagai lawan dari kejujuran hanya akan melahirkan kesengrasaan, kegelisahan dan ketidakpercayaan bahkan kebohongan dapat mendorong seseorang berbuat kemungkaran dan menjerumuskannya ke dalam api neraka.

Kebiasaan berkata jujur adalah cermin orang bermartabat, baik di hadapan manusia apalagi di hadapan Allah SWT. Hidup menjadi tenang dan terarah. Cobalah kita perhatikan orang yang selalu berkata jujur, tutur katanya sopan dan pembawaannya tenang karena tidak ada beban yang ditanggung. Akan tetapi, lain dengan orang yang suka dust, seakan kebohongan menjadi senjata yang ampuh dalam menghindar dari satu masalah namun sebenarnya hanya akan menimbulkan masalah lainnya dan kebohongannya juga akan terus menumpuk karena kebohongan yang terucap akan kembali ditutupi dengan kebongan lainnya sehingga Allah mencatatnya sebagai orang yang suka berbohong. Oleh karena itu, berusahalah untuk menjadi orang yang jujur, di mana pun, kapan pun dan siapapun kita. Beranilah untuk  jujur, jujur terhadap tuhan, jujur terhadap diri dan jujur terhadap makhluk.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang yang beriman bertakwalah dan jadilah orang-orang yang jujur”

Kejujuran adalah solusi, jalan keluar, dan keselamatan meskipun syaitan selalu berkata: “Jika kamu jujur maka kamu akan celaka dan direndahkan”. Lihatlah bagaimana sahabat Ka’ab bin Malik yang jujur mengenai alasannya tidak ikut berperang, meskipun awalnya kejujuran yang diucapkannya mengakibatkan dirinya diisolasi oleh Nabi dan para sahabatnya, akan tetapi kesudahannya adalah kemuliaan, bahkan kisah beliau diabadikan di Al-Qur’an dengan sangat indah.

Oleh: H. DR. Ali Nurdin, M.A.